Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Testimoni Raden Berkomunikasi dengan Kembaran Gaibnya

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Kamis, 22 Agustus 2019 |18:08 WIB
Testimoni Raden Berkomunikasi dengan Kembaran Gaibnya
Ilustrasi Makhluk Gaib (Foto: Shutterstock)
A
A
A

POSTINGAN Abang Felix di Instagram yang menjelaskan bagaimana ritual pemanggilan dan cara melihat secara langsung kembaran gaib viral. Delapan tahapan yang dia jabarkan dipercaya berhasil dan siapa saja bisa mencobanya.

Namun, perempuan indigo Furi Harun punya pandangan sendiri terkait dengan ritual yang dijabarkan Abang Felix. Menurut Furi Harun, cara yang lebih baik untuk bisa berkenalan atau bahkan melihat langsung kembaran gaib Anda adalah dengan meditasi dan puasa mutih atau puasa weton.

Pembahasan seperti ini mungkin sudah pernah Anda dengar sebelumnya dari orangtua. Bahkan, di beberapa wilayah di Indonesia, berkenalan dengan kembaran gaib menjadi semacam budaya yang terus dilestarikan sebagai bentuk penghormatan pada makhluk tak kasat mata tersebut.

Bahkan, Okezone berhasil mewawancarai salah seorang pemuda bernama Raden yang mengaku sudah sejak kecil dirinya berkomunikasi dengan kembaran gaibnya yang biasa dikenal juga dengan nama 'Sedulur Papat Limo Pancer'. So, bagaimana kisah Raden berkomunikasi dengan kembaran tak kasat matanya?

Okezone mengenal Raden melalui media sosial. Dia menjadi salah satu bagian penting dalam utas yang dibagikan akun Twitter @Coklatt__. Dalam utas tersebut, Raden coba menjelaskan dirinya memang sudah sejak kecil melakukan komunikasi dengan kembaran gaib.

Dia bahkan punya pandangan sendiri terkait dengan kembaran gaib tersebut. "Yang aku tahu, sedulur papat lima pancer itu saudara kita yang setia menjaga dan menemani kita saat kita mulai di kandungan sampai lahir. Nah, merekalah yang kadang membantu kita," terangnya dalam cuitan Twitter.

Raden melanjutkan, sebagai contohnya, dirinya mau makan atau memulai aktivitas, maka dia selalu akan mengucapkan sebuah kalimat dalam Bahasa Jawa yang bermaksud untuk sekadar berkomunikasi atau menyapa sedulur papat limo pancernya itu.

Kembaran gaib sedulur papat limo pancer

"Mamarti kakang kawah adi Ari Ari Getih puser sedulur papat limo pancer mangga dak sumanggaken dahar." Ini ucapan yang kerap diutarakan Raden sebelum makan. Setelah mengucap kalimat tersebut, dia melanjutkan dengan doa makan seperti biasa sesuai dengan ajaran agamanya.

Raden kemudian menegaskan, tapi itu semua kembali lagi tentang kepercayaan Anda kepada Tuhan dan semesta ini. Kembali ke pribadi masing-masing.

Okezone coba mengulik lebih jauh bagaimana kebiasaan ini menjadi hal lumrah bagi Raden. Lantas, apa yang biasa dia rasakan setelah mengucap kalimat tersebut? Lalu, ada cerita apa lagi di balik kebiasaan ini?

Di awal, Raden memberi klarifikasi kalau kalimat dalam Bahasa Jawa tersebut bukan doa memanggil kembaran gaib atau cara manusia bisa melihat kembarannya. Kalimat tersebut merupakan kalimat biasa yang dimaksudkan sebagai ucapan obrolan kepada sedulur papat limo pancer.

"Itu kalimat saya berkomunikasi dengan kembaran gaib saya. Saya tahu itu hanya satu arah komunikasinya, tapi menurut kepercayaan saya itu sebagai bentuk kita menghargai adanya makhluk lain yang tidak terlihat," terangnya.

Raden melanjutkan, untuk bisa melihat kembaran gaib, diperlukan ilmu khusus yang sangat tinggi levelnya dan tidak sembarang orang bisa melakukannya.

Hal yang mesti digarisbawahi di sini ialah ketika Anda memang akhirnya bisa melihat kembaran gaib, menurut Raden ada dua kemungkinan yang bakal terjadi setelahnya; pertanda baik atau pertanda buruk. "Dan kita nggak pernah tahu itu pertanda baik atau buruk," tegasnya.

Jadi, ucapan kalimat Jawa tersebut sebatas komunikasi saja, nggak lebih. Karena, sambung Raden, hal kayak gitu kadang tidak dirawat dengan baik. “Maksudnya, objek yang diajak komunikasi kan makhluk halus, makanya kita nggak tahu harus bagaimana menghargai keberadaan mereka. Nah, salah satunya dengan cara itu untuk menghargai keberadaan sedulur papat lima pancer kita," tambahnya.

Kemudian, terkait dengan kebiasaan mengucapkan kalimat Jawa tersebut ke kembaran gaibnya, Raden menjelaskan, kebiasan tersebut sudah dia lakukan sejak kecil. Bahkan, menurutnya, itu bukan hal asing lagi bagi keluarganya.

"Dalam melakukan kebiasaan ini, ada aturan lain yang juga mesti diperhatikan. Jadi, setelah mengucapkan kalimat sapaan kepada kembaran gaib sebelum makan itu, aku biasanya akan menghentakkan kaki ke tanah 3 kali," paparnya pada Okezone melalui pesan pribadi Twitter.

Raden melanjutkan, karena itu merupakan komunikasi satu arah, selama ini Raden tak pernah mengalami kejadian aneh setelah dia melantunkan kalimat Jawa tersebut. Tapi, mungkin dia mensugesti dirinya sendiri dan itu berdampak baik ke hidupnya.

"Untuk apa yang terjadi setelah itu enggak ada. Cuman kembali lagi ke sugesti, ya, semisal saya mau berangkat pergi ke suatu tempat, nah saya baca itu dengan menghentakkan kaki 3 kali ke tanah, rasanya saya lebih aman aja selama perjalanan," ungkapnya.

Sementara itu, Okezone coba mengonfimasi kepada Raden apakah tradisi tersebut akan dia hentikan sejalannya waktu atau malah akan tetap dipertahankan. 

Raden mengutarakan, hal semacam ini nggak bisa langsung diturunkan. Maksudnya, pasti nanti turun temurun ada yang melanjutkan (sanggup dan nggak sanggup). Jadi, untuk kedepannya kurang tahu. "Tapi, yang saya tahu, untuk dipertahankan, ya, bakalan dipertahankan. Karena ini udah jadi budaya di tanah Jawa, jadi udah nggak asing lagi gitu," tambahnya.

(Muhammad Saifullah )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement