“Kalau komennya sudah menyulut amarah biasanya langsung gue lawan balik. Istilahnya ayok deh adu bacot, dia punya pemikran ya gue juga punya pemikiran sendiri. Menurut gue ini cara melampiaskan amarah gue in classy way, gue enggak balas dengan kata"-kata kasar. Nyinyir elegan lah, biasanya sih kalau model begini gue enggak mau kasih panggung,”sambung Intan.
Tidak hanya itu, salah satu cara membalas para haters yang menindasnya tersebut, Intan mengaku terkadang ia mempublikasikan netizen pelaku body shaming tersebut ke hadapan publik, dengan cara mengunggah komentar atau pesan yang disampaikan pelaku body shaming tersebut di fitur InstaStory. Dengan tujuan agar bisa diketahui dan dilihat oleh publik.
“Kalau lagi iseng, gue captured komen atau DM nya terus unggah di story. Tujuan gue sih sebetulnya untuk meningkatkan kepedulian, kalau yang namanya bullying is not ok termasuk body shaming. Mau kasih tahu ke followers gue yang lain, kalau kita jadi korban bully, kita harus bisa speak up dan fight back,” serunya.
Di kesempatan yang sama, Intan juga bercerita menjadi korban body shaming ia sendiri lebih merasa miris pada kenyataan bahwa pelaku body shaming terhadap dirinya ternyata kebanyakan adalah sesama perempuan. “DM hate speech itu kebanyakan perempuan, miris sih sesama perempuan bukannya saling support malah menjatuhkan malah ngatain. Enggak make sensed saja. Menurut gue jadi double standard, lu sebagai perempuan enggak mau diapa-apain, tapi parahnya lu malah melakukan hal itu ke sesama perempuan,” tandas Intan.
(Dinno Baskoro)