Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gawai Serumpun Tampun Juah Bakal Digelar untuk Menarik Wisatawan Crossborder ke Sanggau

Gawai Serumpun Tampun Juah Bakal Digelar untuk Menarik Wisatawan Crossborder ke Sanggau
Foto: dok.Humas Kemenpar
A
A
A

Cerita berpindahnya masyarakat iban dari tanah Tampun Juah berasal dari buah "Kana" atau nyanyian kerinduan. Nyanyian ini dibawakan semalam suntuk oleh para orangtua (kakek mereka). Sementara Gawai berasal dari keyakinan masyarakat Dayak Iban. Keyakinan bahwa ada kehidupan yang tidak bisa dilihat di wilayah Tampun Juah. Maka, diadakan gawai setiap tahunnya.

“Tampun Juah sudah dibina oleh Institut Dayakologie dan gerakan pancur kasih. Saat ini, gawai dan pemeliharaan Tampun Juah dikelola oleh organisasi Laja Lolang Basua. Yaitu 3 ketemengungan, terdiri dari Ketemengungan Iban Sebaruk, Sisang, Bisomu,” tutur Meron.

Untuk tahun 2019, Panitia Gawai Serumpun melakukan komunikasi dengan Saudara mereka dari Brunei dan Serawak. Tujuannya untuk melakukan ritual penancapan pantak. Tepatnya sebagai simbol pengakuan mereka sebagai keturunan Tampun Juah.

Asisten Deputi Bidang Pengembangn Pemasaran I Regional II Kementerian Pariwisata Adella Raung, mengatakan nilai jual budaya Suku Dayak sangat tinggi.

“Suku Dayak itu sangat khas sekali. Apalagi Suku Dayak Iban. Karena, keturunannya sudah menyebar ke pelosok Pulau Kalimantan. Makanya, event budaya sangat tepat untuk dijadikan atrasi di crossborder Kalimantan, khususnya Kalimantan Barat. Karena ada ikatan emosional yang membuat wisatawan crossborder datang ke Indonesia,” papar Adella, didampingi Kabid Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Sapti Haryono.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement