Sementara itu, Kepala PLBN Motamasin Andreas Hanaka menyatakan di PLBN yang dikelolanya ini tak terlalu banyak dengan dua PLBN lainnya yakni Mota'ain dan Motamasin. Namun demikian pihaknya optimis dari tahun ke tahun para pelintas batas di PLBN Motamasin bisa terus meningkat.
"Di Motamasin ini para pelintas batas hanya 30-70 orang saja tak seramai di Mota'ain dan Motamasin. Tapi pada hari hari tertentu, contoh pada hari pasar Selasa dan Jumat kemudian hari Natal dan Tahun baru bisa mencapai 100 orang," katanya.
Ia menambahkan, sebagian besar jika akhir tahun atau pada saat ramai itu kebanyakan warga Timor Leste yang melintas ke Indonesia dengan berbagai macam keperluan atau urusan.
"Mulai dari mengunjungi keluarga saat natal bersama hingga urusan keluarga lainnya di akhir tahun. Kemudian jika warga Indonesia yang ke Timor Leste itu biasanya saat acara adat, seperti kematian atau rumah adat, begitupun sebaliknya," ungkapnya.
Sementara terkait dengan tingginya minat masyarakat setempat atau warga NTT pada umumnya yang hendak berkunjung namun hanya sebatas berwisata foto selfie, pihaknya memberi keleluasaan.
"Dengan catatan kunjungan wisata foto di sekeliling PLBN ini saat bukan jam kerja atau hari libur. Mereka dipersilahkan untuk berfoto karena kemegahan PLBN disini menjadi daya tarik tersendiri. Bahkan berdasarkan data di buku tamu, wisatawan yang berkunjung kesini bisa mencapai 100 orang lebih," ujarnya.
Sebab, lanjut dia, Kabupaten Malaka ini hanya gedung PLBN Motamasin saja yang paling bagus. Pihaknya bangga karena meski sepi pelintas, tapi luas areanya masih lebih besar PLBN Motamasin dibandingkan Mota'ain dan Motamasin.
"Sebab akses pintu masuk ke Dili, ibukota Timor Leste bukan disini, tapi di Mota'ain. Kalau Motamasin hanya ke Kota Suai untuk ke Dili jalannya lebih parah, makanya banyak pelintas dari Tumor Leste maupun sebaliknya lebih memilih PLBN Mota'ain," ungkapnya.
Ia mengaku hingga saat ini nyaris tak ada kendala dalam melakukan pelayanan, hanya dibutuhkan tambahan Sumber Daya Manusia (SDM) saja.
"Keterbatasan teknis operasional karena jumlah SDM kurang, terutama unsur pelayan, karantina, bea cukai dan imigrasi. Jadi aksesnya yang kita pakai baru gedung utama saja, padahal sudah banyak gedung sekitar sini dibangun," paparnya
(Dinno Baskoro)