ANGIN malam yang dingin nampaknya sudah tidak lagi bisa mengalihkan perhatian saya dari Furi Harun, perempuan indigo yang tengah bertemu Stefanus si hantu pembuat jembatan. Stefanus merupakan pria Belanda yang digambarkan memiliki tinggi badan 189 cm dengan perkiraan umur 43 tahun.
Sambil berbincang dengan kami, matanya tetap memandang tajam ke arah sebuah pohon tinggi di sisi jembatan, tempat Stefanus biasa berdiam. Menurut Furi, Stefanus datang bersama dengan anjing kesayangnya. Furi pun tidak sendiri, di lengan kirinya boneka chika, yang merupakan boneka kuman thong, setia menemani dia.
"Terima kasih," kata Furi mengambil nafas, lalu melanjutkan "Dia mengucapkan terima kasih karena akhirnya ada yang datang untuk menyampaikan cerita yang real tentang dia. Enggak membuat keributan, sehingga energi negatif lain menyingkir," ucap Furi tanpa melepaskan tatapannya.
Furi kembali menjelaskan, anjing putih kesayangan Stefanus itu menjemput ajal 6 jam setelah Stefanus ditembak, tetapi penyebab kematiannya berbeda dengan Stefanus. Furi pun diam sejenak. "Namanya Heli anjing putihnya," jelas Furi.
Baca Juga: Cerita Penumpang Ojol Pria jika Dapat Driver Wanita, Pernah Ngalamin Gak?

Tapi, yang membuat Stefanus sendiri bingung adalah kenapa istrinya ikut bunuh diri dua hari setelah dia meninggal. Meski begitu, dia tidak menyalahkan siapa pun, menurut Furi, Stefanus percaya bahwa yang menimpa mereka adalah nasib yang harus mereka jalani. Saat ini, mereka pun tetap betah berada di jembatan tersebut.
Tapi, lanjut Furi, Stefanus mengungkapkan kekesalannya pada orang-orang yang kerap membuang kelapa, karena itu akhirnya menjadi energi yang negatif. Saya tak ingat sejak kapan menahan nafas, saya terlalu fokus mendengar cerita Furi, yang tak pernah melepaskan pandangannya dari arah pohon.
Tapi kalimat selanjutnya kembali memaksa saya menahan nafas. Furi bercerita bahwa ada peristiwa mutilasi tujuh tahun yang lalu ada yang dimutilasi dan dibuang di sini. Saya pun berusaha mengali-gali ingatan saya pada peristiwa 7 tahun lalu.
Ya, di 2012 memang sempat ada dua orang berbaju hitam membuang karung goni, dari karung tersebut menetes bercak darah yang tersisa di jalanan dan pagar jembatan. Memang pada akhirnya polisi tidak pernah menemukan isi karung tersebut karena hilang dibawa derasnya arus. Tapi, penelitian uji laboratorium menunjukkan bahwa bercak darah tersebut adalah darah manusia.
Rasanya ingin saya nimbrung omongan tersebut dan bertanya soal korban mutilasi tersebut. Tapi tenggorokan saya terasa tercekat, dan membuat saya hanya menggumam sendiri saja. Padahal, menurut Furi banyak "warga" di situ tidak pernah menggangu sekitarnya, mereka hanya tinggal di sana.
Baca Juga: Sifat Selingkuh Keturunan dari Orang Tua? Ini Jawaban Pakar

Lantas, siapa warga itu? Sekali lagi.. tanpa perlu saya bertanya, Furi nampaknya bisa membaca pikiran saya. Warga di sana adalah mereka yang meninggal saat membangun jembatan tersebut. Menurut Stefanus, jembatan itu memang dibuat untuk masyarakat Indonesia, hanya saja peralatan yang belum memadai membuat potensi kecelakaan kerja meningkat.
"Itu membuat banyak sekali rakyat yang meninggal karena memikul barang terlalu berat. Seperti ngambil batu, sehingga leher hampir putus," ucap Furi seperti mengulang pesan Stefanus.
Bagimana tidak, jembatan tersebut ternyata hanya dibuat dari media putih telur dan tanah. Menitip uang berkutang, menitip kata bertambah, mungkin inilah yang terjadi pada kisah jembatan Panus. Rumor yang beredar malah pembangunan Jembatan Panus harus menumbalkan kepala.
Dengan tenang Furi pun terus mengisahkan alasan stefanus masih menjaga tempat ini, tidak lain karena dia sangat berterima kasih pada rakyat zaman dulu yang sudah membantu membangun jembatan ini. Sayangnya, rumor yang melekat di Jembatan Panus ini seakan negatif karena banyak kejadian bunuh diri dan pembunuhan yang akhirnya mengotori jembatan.
Furi tiba-tiba terdiam cukup lama, dia terlihat sedang menyimak dengan seksama apa pesan Stefanus selanjutnya.
"Dia ingin dikunjungi hari Kamis pukul 11 siang, karena itu adalah jam dia ditembak. Atau kalau mau hari Sabtu jam 11 siang karena itu waktu istrinya lompat ke dasar jembatan. dia sangat welcome," ungkap Furi menyampaikan pesan Stefanus.
Cerita Furi memang cukup membuat kami tenang, karena yakin dia bukan hantu saja. Hanya saja, tiba-tiba dia menyebut. "Dia suka sama salah seorang laki-laki di sini, karena memang punya tujuan ingin menguak fakta, bukan cuma karena pekerjaan," ucapan Furi itu pun membuat saya diam, takut, senang, khawatir bercampur jadi satu.
"Yang mana, di sini banyak laki-lakinya," lanjut Furi melihat beberapa kru. Saya pun ikut memandang teman-teman lainnya dengan perasaan bertanya-tanya, mungkin mereka pun sama bingungnya dengan kami.

Furi yang melihat pun sedikit tertawa. Kata-kata dia selanjutnya memang sepertinya di luar skenario awal kami. "Ada yang mau dijadiin mediator?," kata Furi sambil tersenyum.
Kami yang tidak siap akhirnya diam saja, tidak ada satu pun yang mengajukan diri. Saya pun tidak terfikir tubuh saya dimasuki oleh roh lain. Akhirnya Furi pun menggagalkan acara mediasi tersebut. "Just let it flow ya," tutur dia.
Furi pun memberi pengertian ke kami, meskipun sedang gerimis tapi ini adalah best moment spirit ingin menyampaikan sesuatu, dan inilah yang dia maknai dari ghost hunting. "Apa sih makna ghost hunting? Apa harus buat keribuatan, gaduh, heboh lalu kita pergi? Kalau menurut saya sih enggak," katanya.
Di tengah penjelasannya itu, tiba-tiba Furi berhenti lantaran ada salah satu kru Okezone yang mual. Dia pun menjauh ke ujung jembatan untuk menghindari energi negatif. Furi pun melanjutkan penjelasannya yang sempat terpotong. "Jadi setelah bertemu, ada sebuah pesan yang harus dirilis, sehingga menjadi berita yang benar," katanya.
Perempuan ini melanjutkan, memang saat datang ke Indonesia Belanda banyak sekali menyakiti rakyat Indonesia. Tetapi dia berusaha saat membangun jembatan ini, dia membangunnya dengan hati. "Meskipun dalam jangka waktu yang lama..." tiba-tiba Furi menengok ke bawah seakan kakinya digigit serangga.

Saya pun melihat ke arah kaki Furi, memang dia hanya mengenakan celana sebatas lutut. Mungkin digigit nyamuk pikir saya, sayangnya dugaan saya meleset 100 persen. "Kok ada kepala ya, oke," kata Furi sambil melihat ke bawah seakan menyuruh kepala itu pergi.
Saya yang tadinya sudah mulai mengantuk, karena mulai merasa nyaman tiba-tiba segara ketika Furi berkata seperti itu. Jantung saya pun berdesir, udara dingin kembali saya rasakan makin menusuk. Saya melihat Furi yang memblakangi kamera, seakan mencari ke mana kepala itu hilang.
"Mungkin tadi ada yang nanya ya, mbak Furi ngelihat kepala enggak, trus saya bilang enggak, trus dia beneran muncul. Ada yang lihat ga sih?," tanyanya ke kami. Saya hanya menggeleng pelan sambil mencoba mencerna apa yang telah terjadi. "Gw jadi kayak ketakutan sendiri jadinya," lanjut Furi.
Selang beberapa detik, Furi kembali memblakangi kamera, dia pun seakan menyapa kepala yang ingin ikut tampil itu. "Oke kamu ada, tapi nanti ya ceritanya," katanya berbincang dengan kepala tersebut.
Setelah mengambil nafas, Furi pun kembali melanjutkan kisah pembangunan jembatan tersebut. "Jadi setelah membangun ternyata dia tidak dipulangkan ke Belanda, tapi malah ditembak oleh dua tentara Jepang di hari Kamis jam 11 siang," jelas Furi.
"Jadi kalau kamu mau ke sini, merasakan energi yang ada di sini, energinya sangat besar, sangat ramai, tapi energi itu akan tergantung niat sendiri. Kalau memang baik, mau dengar cerita dan kita kasih koin, Insya Alllah mereka akan sangat open," katanya.
Furi diam sejenak, lalu melanjutkan ceritanya. Saya pikir Furi akan menceritakan kisah lanjutan Stefanus, tapi dia malah membahas tentang kepala menggelinding barusan. "Kepala itu namanya Mamat. Dia sampai sekarang masih mencari badannya ada di mana. Tapi saya bilang itu pekerjaan yang sangat sulit dilakukan, jadi Mamat yang mengganggu kita yang ada di sini, silahkan kalau mau cerita," kata Furi.

Namun, Furi tampak mengunrungkan niatnya, wajahnya menunjukkan rasa tidak nyaman. "Mamat itu agak serem. Jadi saya enggak terlalu nyaman juga ngelihatnya. Ok Mat, kamu di belakang saya saja Mat," kata Furi sambil membuat gestur menyuruh pindah dengan tangannya.
"Dia bilang dia dibunuh, dipotong-potong, gara-gara dia berselingkuh. Dia dibunuh oleh selingkuhan istrinya dan dia dibunuh, beritanya ada di koran, dan mayatnya ditemukan di sini. Kita cek lah nanti kebenaran ceritanya dia."
"Yang jelas dia mau bilang ke keluarganya. Keluarganya ada di Purwakarta, rumahnya ada pager warna cokelat, ada tulisan 11, nomor 11 mungkin ya. Trus dia mau bilang sama keluarganya kalau Mamat itu minta didoakan. Karena mungkin keluarganya terlalu sedih, dia perlu didoakan," tutur Furi.
Furi mulai bergerak, kami pun mengikuti, suasana kembali menjadi dingin, berbeda rasanya ketika dia bercerita tentang Stefanus. Atau mungkin karena ada gangguan lain selain Mamat? (bersambung)
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.