Setelah dibuka matanya, naga-naga ini dilepas untuk mengelilingi kota atau pawai di sejumlah jalan, kantor pemerintahan, pemukiman warga untuk mengusir roh-roh jahat. Mengikuti lantunan suara dari gendang, gong dan chaim. Atraksi di hari pertama ini pun memukau ribuan penonton. Baik wisatawan lokal maupun mancanegara.
Koordinator Atraksi 12 Naga Santo Yosef, Bong Bu Kiat mengungkapkan, ritual buka mata ini juga menjadi bagian dari upaya melestarikan seni budaya Tionghoa. Khususnya dalam perayaan Tahun Baru Imlek dan Cap Goh Meh. Serta mendukung pariwisata dan budaya di Kota Seribu Kelenteng ini.

“Jumlah naga yang kita tampilkan tahun ini, bertambah tiga. Tahun sebelumnya hanya sembilan naga. Ini hanya untuk turut berpartisipasi menyemarakaan Festival Cap Go Meh,” ungkapnya kepada sejumlah wartawan.
Bong Bu Kiat menambahkan, Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki daerah lain. Karena, Cap Go Meh di Singkawang memiliki khazanah kearifan lokal yang dikelola dengan baik oleh panitia. Sehingga layak untuk terus dipertahankan dan dilestarikan.