Seiring berkembangnya zaman, kini sudah banyak orang yang mulai tergerak untuk mengubah gaya hidup mereka. Terlebih di era serba digital seperti saat ini.
Semua orang cenderung lebih suka melakukan berbagai kegiatan tanpa perlu repot-repot mengeluarkan tenaga. Istilahnya semua harus serba praktis. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, kebiasaan seperti ini mulai mengalami perubahan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat.
Hal ini ditandai dengan muncul tren-tren olahraga yang tengah digandrungi. Sebut saja tren marathon atau event lari yang hampir setiap minggu diselenggarakan di ibu kota. Sayangnya, masih banyak masyarakat Indonesia yang terlalu menganggap sepele event-event seperti ini.
Hanya karena melihat foto rekan atau teman kantornya finish saat mengikuti lari 5K, 10 K, atau marathon, banyak orang yang nekat untuk ikut mencobanya.
Padahal, menurut Dr. Hario Tilarso, SpKO, Dokter Spesialis Olahraga Pendaming KONI untuk mengikuti event lari itu membutuhkan persiapan yang matang dan tidak instan. Apalagi yang sudah memasuki usia tua atau di atas 40 tahun.
"Di usia tersebut kemampuan tubuh sudah menurun. Terlebih jika sudah jarang berolahraga. Kalau mau coba ikut event lari harus memeriksakan dulu apakah tubuh masih mampu atau tidak. Terutama memeriksakan kesehatan jantung," tutur Dr. Hario Tilarso, sebagaimana dikutip dari siaran pers Bangun Tjipta Golden Run 2019 yang diterima Okezone, beberapa hari yang lalu
Lebih lanjut, Hario mengatakan, idealnya, seseorang yang ingin mengikuti lomba lari harus melakukan persiapan setidaknya 3 bulan sebelum hari H. Selama periode tersebut, peserta harus menjalani program latihan yang telah disesuaikan dengan kemampuan mereka.