Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Tukang Parkir yang Dirikan Rumah untuk Anak-Anak Penderita HIV/AIDS

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Sabtu, 01 Desember 2018 |19:31 WIB
Kisah Tukang Parkir yang Dirikan Rumah untuk Anak-Anak Penderita HIV/AIDS
Puger bersama anak-anak penderita HIV/AIDS di Rumah Singgah Lentera (Foto: BBC Indonesia)
A
A
A

Jadi rujukan

Tujuh relawan membantu merawat 27 anak berusia dari satu tahun hingga sembilan tahun di rumah khusus ini.

"Ini sudah menjadi rujukan nasional. Anak-anak ini selain dari Solo dan sekitarnya, ada yang berasal dari Sulawesi, Papua, Jawa Timur, Jawa Barat, Batam dan daerah lainnya. Kami tidak bisa menolaknya karena tempat ini menjadi alternatif terakhir bagi perawatan ADHA," kata Puger.

"Anak-anak itu harus minum obat tepat waktu seperti obat HIV, vitamin, obat infeksi dan obat lainnya. Jadi para relawan harus menyiapkan obat-obat itu untuk diminum anak-anak," tuturnya.

Puger mengatakan tugas paling berat yang ia rasakan adalah ketika harus memberitahu kepada anak-anak saat beranjak dewasa bahwa mereka terkena HIV/AIDS.

"Jika mengetahui jika ternyata positif HIV/AIDS ada yang drop, tapi lama-kelamaan kita pulihkan jiwanya. Dulu pernah ada yang drop, tak mau minum obat lagi dan meninggal. Akhirnya, dengan belajar dari para psikolog, kami mulai melakukan pendekatan religius kepada mereka," kata dia.

 

Anak-anak Indonesia yang terkena HIV berjumlah 14.000

Direktur badan AIDS PBB, UNAIDS, untuk Indonesia, Krittayawan Boonto, mengatakan Rumah Singgah Lentera di Solo ini "sering kali dijadikan contoh" dalam peratawan anak yang terkena HIV.

"Di beberapa daerah lain ada beberapa juga, namun rumah singgahnya kecil dan bentuknya kerjasama masyarakat lokal," kata Krittayawan yang biasa dipanggil Tina.

Krittayawan mengatakan mengutip data Kementerian Kesehatan pada 2017 bahwa jumlah anak yang terkena HIV di Indonesia mencapai 14.000 dari total 620.000 orang yang terkena di Indonesia secara keseluruhan.

 

Dari jumlah 14.000 anak ini, hanya sekitar 24% atau hampir 3.500 yang mendapatkan pengobatan. Tina mengakui bahwa para penderita HIV/AIDS masih menghadapi stigma yang tinggi karena salah paham soal penularan.

Ia mengatakan banyak yang tak tahu bahwa "HIV hanya dapat tertular melalui hubungan seks" dan orang tak dapat tertular hanya karena bersentuhan atau karena air ludah.

Ia mengatakan anak-anak yatim piatu yang menderita HIV/AIDS dan ditampung di rumah khusus biasanya mendapatkan bantuan dari masjid atau gereja serta pihak-pihak lain. Mereka yang mendapatkan obat HIV secara teratur bisa sekolah dan melakukan kegiatan seperti anak-anak lainnya.

"Dengan konsumsi ARV (obat HIV), virus HIV bisa ditekan sampai tidak terdeteksi dan mereka akan tampak sehat seperti anak lain yang non-HIV," kata Tina.

Tambahnya, "Mereka bisa belajar dengan tenang, tidak punya kebutuhan khusus. Jadi, bisa sekolah di sekolah umum. Sekolah juga harusnya nondiskriminasi."

"Membuka status HIV (anak-anak) bukan menjadi kewajiban sekolah, tapi kewajiban sekolah adalah beri pendidikan ke semua anak."

Oktober lalu, tiga anak di sekolah dasar di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, ditolak bersekolah karena para orang tua lain khawatir anak-anak mereka dapat tertular virus HIV.

(Utami Evi Riyani)

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement