Sampai saat ini makam Saad yang berada di bangunan berbentuk oval di tengah permakaman pengikutnya yang berjarak sekitar 200 meter di sebelah utara bangunan masjid masih ramai dikunjungi peziarah.
"Sudah beberapa kali saya ziarah ke sini," kata Xian Peng saat ditemui di depan pintu gerbang makam, Selasa (16/10). Pria yang memiliki nama lain Yusuf itu rela menempuh perjalanan sejauh 2.477 kilometer dari kampung halamannya di Qinghai menuju Guangzhou untuk mendapatkan keberkahan hidup bersama istrinya.
"Kalau naik pesawat 3,5 jam, kalau naik kereta api bisa 37 jam," ujar pria yang saat itu mengenakan kopiah putih.
Lain lagi dengan Nabeel, warga Pakistan, yang baru pertama kali menziarahi Sahabat Nabi yang wafat pada 674 M dalam usia 79 tahun itu.
"Baru pertama kali, makanya saya tidak tahu di mana masjidnya," ujarnya saat berjalan kaki dari makam menuju masjid.
Pada hari-hari biasa, makam Saad dikunjungi sekitar 100 hingga 200 orang, baik dari China maupun peziarah dari negara lain. Bahkan pada hari-hari tertentu, serombongan warga negara Indonesia yang tinggal di Hong Kong juga rutin bertawasul di makam Saad. Pada hari Jumat, jamaah pun meluber. Untungnya di sekitar masjid yang masih dalam satu kompleks dengan makam juga terdapat bangunan lain yang bisa menampung ribuan orang.
"Kalau Jumat bisa mencapai 10 ribu orang yang datang kemari, sedangkan Hari Raya bisa sampai 20 ribu orang," kata Funan, polisi yang berjaga di pintu belakang kompleks makam Saad.
(Utami Evi Riyani)