Advertisement
Advertisement

7 Gangguan Kesehatan Akibat Putus Cinta, Kamu Sadar Enggak?

Agregasi Solopos , Jurnalis-Rabu, 19 September 2018 |17:45 WIB
7 Gangguan Kesehatan Akibat Putus Cinta, Kamu Sadar Enggak?
Gangguan Kesehatan (Foto: Everydayhealth)
A
A
A

PUTUS cinta dalam sebuah hubungan adalah hal wajar. Namun perlu Anda ketahui perpisahan ternyata dapat mempengaruhi kesehatan tubuh.

Masalah yang timbul pada tubuh bisa bersifat fisik, emosional atau mental. Dalam beberapa kasus, ada yang sampai bunuh diri. Untuk lebih jelasnya, berikut ini adalah beberapa masalah kesehatan yang dapat timbul saat putus cinta seperti dalam lansiran Solopos berikut ini:

(Baca Juga: Pakai Hijab di Kontes Kecantikan Internasional, Wanita Berdarah Indonesia Ini Curi Perhatian)

Respons melemah

Putus cinta akan membuat tubuh menjadi stres dan ini mempengaruhi respons Anda seperti konsentrasi yang buruk, cemas yang berlebihan yang suatu saat bisa berubah menjadi depresi.

Memengaruhi rasa lapar dan jam tidur

Saat putus cinta, tubuh cenderung melepaskan hormon stres yang disebut dengan kortisol. Ini memainkan peran untuk mengalihkan darah dari sistem pencernaan Anda. Hal tersebut dapat memicu kondisi seperti sindrom iritasi usus (IBS) yang akan membuat makan berlebihan atau makan lebih sedikit.

Berbicara tentang tidur, insomnia atau hypersomnia adalah fenomena umum yang dialami orang-orang yang baru berpisah. Anda akan merasa energinya lebih rendah, stres, depresi dan lainnya.

Menyebabkan pelepasan neurotransmitter dopamine

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Colombia University menemukan cinta mempengaruhi otak Anda secara signifikan. Hal ini mirip dengan cara kerja otak para pecandu kokain terpengaruh selama pemakaian. Sebuah neurotransmiter yang disebut dopamin dilepaskan oleh beberapa bagian otak, hormon ini memainkan peran penting dalam otak dan tubuh. Itu akhirnya membuat kita terobsesi dengan orang yang paling kita sukai.

Merilis hormon stres

Kortisol adalah hormon stres yang dilepaskan ketika seseorang sedang mengalami stres serta kadar glukosa darah rendah. Salah satu pemicunya adalah putus cinta atau patah hati. Patah hati akan menyebabkan hormon kortisol lebih lama berada di dalam tubuh. Ini akan mempengaruhi Anda sehingga jadi lebih stres, sering ketakutan, kelelahan fisik dan lainnya.

Melemahkan sistem kekebalan tubuh

Patah hati akan melemahkan sistem kekebalan tubuh Anda dengan mematikan bagian-bagian tertentu dari tubuh yang bertugas memerangi mikroba penyebab penyakit. Ini akan membuat Anda lemah dan menjadi lebih sensitif terhadap penyakit.

 

Mengalami sindrom patah hati

The American Heart Association mengungkapkan saat putus dengan seseorang, Anda akan mengidap yang namanya sindrom patah hati. Sebagian dari jantung Anda tidak memompa dengan baik, sementara yang lainnya melakukan fungsi seperti biasa, yang berarti kontraksi bisa menjadi lebih kuat. Gejala-gejala sindrom patah hati itu meliputi detak jantung yang tidak teratur dan nyeri dada. Oleh karena itu sering disalahartikan sebagai serangan jantung.

 Baca Juga: 10 Transgender Ini Cantiknya Gak Kalah dengan Perempuan Asli, Lihat Saja Sendiri!)

Menyebabkan masalah kulit

Tingkat stres yang tinggi dapat menyebabkan masalah kulit seperti jerawat. Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2007 oleh para peneliti di Wake Forest University di North Carolina menemukan bahwa orang yang mengalami tingkat stres berlebihan seperti saat putus, 23 persen lebih banyak resiko berjerawat. Studi tersebut juga mengungkap bahwa stres dapat memicu peradangan dan jerawat adalah hasil dari peradangan kulit.

(Dinno Baskoro)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement