Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Intip Kehidupan Milenial dari Tempat Lahirnya Bangsa Viking, Tajir-Tajir Loh!

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Rabu, 08 Agustus 2018 |11:10 WIB
Intip Kehidupan Milenial dari Tempat Lahirnya Bangsa Viking, Tajir-Tajir Loh!
Milenial (Shutterstock)
A
A
A

Apa yang berbeda dengan Norwegia?

Gaya hidup muda-mudi Norwegia yang fantasis didasarkan pada pertumbuhan ekonomi pesat negara mereka.

Setelah mencatatkan kenaikan pendapatan terbesar di antara negara maju antara 1980 dan 2013, Norwegia kini memimpin sejumlah daftar global untuk isu kekayaan dan kesejahteraan. Norwegia mampu bertahan dari resesi global.

 Milenial

Tahun lalu, Norwegia berada di puncak Indeks Kesejahteraan Legatum yang menganalisis 110 negara di seluruh dunia.

 Baca juga: 5 Wanita Cantik Super Pintar, Ada yang IQ-nya Tembus 200!

Sektor minyak dan gas Norwegia jelas merupakan faktor yang mendorong kemajuan ekonomi negara itu selama tiga dekade terakhir, diikuti penemuan besar di North Sea, meski kejatuhan harga energi beberapa tahun terakhir sebenarnya juga berdampak pada mereka.

Namun seperti dijelaskan Hilde Bjørnland, profesor di BI Norwegian Business School, signifikansi itu bukan hanya soal seberapa banyak uang yang dihasilkan negaranya, tapi apa yang diperbuat olehnya.

"Norwegia sukses mengelola uang minyak untuk tabungan dan menggunakan sebagian porsinya untuk kesejahteraan masyarakat."

"Jadi daripada sedikit kelompok merasakan manfaatnya, banyak orang memiliki akses pada kekayaan itu," ujar Bjørnland.

Norwegia mencapai titik ini dengan menempatkan uang mereka di badan finansial yang mengatur dana publik dan menginvestasikannya ke berbagai aset. Secara sederhana, ini adalah periuk besar tabungan yang menghasilkan uang karena diinvestasikan di lebih dari 9000 perusahaan.

 Baca juga: Rahasia Wajah Segar dan Sehat Bambang Pamungkas

Dana itu kini mencapai sekitar US1 triliun

Selain itu, pajak tetap diberlakukan tinggi dan pemerintah Norwegia juga menekan struktur pengupahan, artinya gaji minimum dinegosiasikan oleh serikat pekerja.

"Orang muda dan mereka yang bekerja di industri berupah rendah merasakan kenaikan gaji setiap tahun...dan perbedaan antara mereka yang berpendapatan rendah dan bergaji tinggi tidak begitu lebar seperti di negara lain," kata Bjørnland.

Laporan The Resolution Foundation tentang pendapatan dari generasi ke generasi menyimpulkan, peningkatan ketimpangan merupakan faktor utama penurunan pendapatan siap pakai milenial di negara maju seperti AS, Inggris, dan Jerman.

Di negara-negara ini, di mana terdapat jurang perbedaan gaji yang besar, orang mudalah yang menanggung dampak negatif ketiadaan peningkatan upah dan mobilitas pekerjaan.

 Baca juga: Cara Mudah Atasi Pilek dan Bersin saat Bangun Tidur di Pagi Hari

Sebaliknya, Bjørnland menyebut pendekatan egaliter--distribusi kesejahteraan antargenerasi--berkontribusi pada tingkat kepuasan hidup yang besar dan ketiadaan keresahan sosial di Norwegia.

 Generasi Milenial

Bantuan finansial bagi kelompok tidak mampu dan jaminan kesehatan yang disubsidi pemerintah juga berdampak positif pada masa depan milenial di Norwegia, tak seperti yang terjadi di negara Eropa lain.

Fasilitas bagi pengangguran cukup banyak: mendapat uang sebesar 60% dari pendapatan selama dua tahun terakhir di saat mereka berupaya meraih pekerjaan baru.

Seperti di negara Nordik lainnya, ongkos pengasuhan anak rendah dan sistem cuti orang tua juga memastikan partisipasi tinggi perempuan di lapangan pekerjaan.

Pendidikan gratis di hampir semua sekolah dan universitas negeri serta akses mudah untuk pinjaman (peminjam tidak membayar bunga selagi masa pendidikan), di samping tingkat penerimaan kerja yang tinggi juga berpengaruh pada situasi itu.

 Baca juga: Cara Mudah Cegah Hipertensi, Periksa Tekanan Darah Teratur

"Ini adalah faktor yang signifikan, ketika orang muda menempuh pendidikan, mereka bisa mendapatkan pekerjaan sampingan," kata Bjørnland.

Ia berkata, pekerjaan sederhana kerap memberi pendapatan besar bagi muda-mudi Norwegia, tidak seperti di negara barat lainnya.

Pemikiran Bjørnland itu diutarakan pula oleh gerombolan pelajar yang tengah bersantai di Sungai Akerselva, beberapa meter dari gedung kaca bercahaya yang mendominasi bangunan kampus.

"Tidak sulit mendapatkan pekerjaan di sini dan mereka selalu memberi gaji yang layak. Jadi ini sangat membantu menanggung plesir dan biaya pendidikan anda," kata Gabriella Sanzana, mahasiswa berumur 27 tahun dari Chile.

Sanzana yang tengah mengejar gelar S2 di bidang hak asasi manusia bekerja paruh waktu sebagai pramusaji.

"Saya harus membayar pajak tinggi, tapi saya tidak peduli karena pada saat yang sama pemerintah memberi saya banyak fasilitas," ujar Sanzana.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement