SETIAP daerah di Indonesia punya kue khas tradisional masing-masing. Salah satunya Kue Semprong Kue dalam bentuk gulungan ini merupakan makanan khas yang berasal dari Pulau Jawa. Kue ini ternyata memiliki kesamaan dengan beberapa kue lainnya di Indonesia yakni Kue Sapik dari Sumatera Barat dan Kue Gulung dari Sulawesi Utara.
Kue Sapik bentuknya mirip kue semprong tetapi tidak digulung. Saat diangkat dari cetakan pemanggang, kue ini dilipat dan dijepit, sehingga dinamakan Kue Sapik atau Kue Jepit. Di Sulawesi Utara (Sulut) sendiri kue ini lebih dikenal dengan nama kukis gulung. Kue tradisional ini sering hadir saat perayaan hari Natal atau Lebaran di berbagai wilayah di Sulut.

Namun keberadaannya kini sudah sulit dijumpai, bisa dikatakan kue khas tradisional ini sudah mulai punah dan tinggal sedikit orang yang bisa membuat kue ini. Berangkat dari hal tersebut membuat Ibu Widya Londah (40), Ibu rumah tangga asal Manado ini tertarik untuk membuat kue gulung.
"Kukis ini sudah jarang terlihat, saya rasa sudah tidak ada lagi yang produksi di Manado," ujar Ibu Widya saat disambangi okezone di rumahnya.
Awal memulai bisnis rumahannya pada September 2017, Widya belum memproduksi sendiri, masih diminta dibuatkan oleh orang lain di Kampungnya, Tareran, Minahasa Selatan dan Ibu Widya hanya memasarkan saja. Lama kelamaan, Ibu Widya mulai belajar membuat sendiri dan mulai awal tahun 2018 Ibu widya menjadikan rumahnya sebagai tempat produksi.
(Baca Juga: 6 Orang Ini Punya Bagian Tubuh Tambahan, dari 2 Muka hingga 16 Jari Kaki)

(Baca Juga: Jangan Sepelekan Kesepian, Dampaknya Mematikan)
Dengan hanya bermodalkan satu kompor gas dan dua cetakan kukis gulung Ibu Widya mulai menjalankan usahanya. Dalam sehari Ibu Widya bisa menghasilkan 30 bungkus kukis gulung yang sebungkusnya berisi 10 batang kukis gulung. Dalam sebulan Ibu Widya bisa membuat 900 bungkus kukis gulung yang dijualnya dengan harga Rp15.000 perbungkus dalan sebulan Ibu Widya bisa meraup keuntungan sekitar Rp15.000.000 per bulan.
"Kalau di bulan Desember pendapatan bisa sampai 20 juta, banyak pesanan dibandingkan dengan hari-hari biasa," jelas Ibu Widya.
Kukis gulung buatan Ibu Widya terdiri dari dua macam, kukis gulung original dan kukis gulung green tea. Harga penjualan tetap sama Rp15.000 perbungkus, juga ada yang dijual dalam toples besar tupperware isi 60 kukis gulung dengan harga Rp100.000.
Kini usaha yang meskipun baru dirintisnya itu sudah mulai banyak peminat, dari awalnya hanya kerja bersama suami, kini Ibu Widya sudah mempekerjakan dua orang. Produk tersebut Ibu Widya pasarkan ke berbagai rumah makan yang ada di Kota Manado, Hotel-hotel dan toko-toko pusat ole-ole khas Manado, juga lewat pemasaran online.
Cara membuatnya menurut Ibu Widya terbilang gampang-gampang susah, selesai dicetak harus secepatnya diangkat sebelum keburu dingin, karena kalau sudah dingin, adonan akan sulit digulung dan akhirnya malah rusak. Nah, agar sukses membuat kukis gulung yang renyah dan kriuk, Ibu Widya tidak segan-segan berbagi resep cara membuatnya.

Bahan-bahan yang diperlukan
Tepung beras 1,5 kg
Gula pasir 1,5 kg
5 buah kelapa tua
Kacang tanah 250 gram
Susu kental manis 1 kaleng
Cara Pembuatan
- 5 buah kelapa yang sudah tua diparut, terus diperas, diambil santannya
- Kacang tanah disanggarai kemudian dikeluarkan kulitnya, sesudah itu di blender sampai halus
- Campurkan tepung beras, Gula pasir, santan kelapa, kacang tanah yang sudah dihaluskan, susu kental manis, aduk sampai rata
- Panaskan cetakan kemudian masukkan adonan menggunakan sendok makan, adonannya harus pas biar, tidak tipis atau ketebalan
- Saat dibakar, cetakannya sambil dibolak-balik agar panasnya merata sehingga adonannya tidak hangus. ika sudah matang, diangkat dan langsung digulung dalam keaadaan masih panas biar mudah menggulungnya, karena kalau sudah dingin tidak bisa lagi digulung.
Bahan-bahan diatas bisa menghasilkan sekitar 300 kukis gulung atau 30 bungkus kukis dengan isi 10 per bungkus.
(Santi Andriani)