Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Pramudya Ananta Toer, Maestro Sastra yang Sangat Mencintai Keluarga

Agregasi BBC Indonesia , Jurnalis-Senin, 30 April 2018 |15:21 WIB
Pramudya Ananta Toer, Maestro Sastra yang Sangat Mencintai Keluarga
BBC Indonesia
A
A
A

JAKARTA - Sastrawan kawakan Pramudya Ananta Toer, yang karyanya selama ini menjadi inspirasi orang dalam memaknai sejarah perjuangan di tengah penindasan, ternyata memiliki sisi-sisi lain yang tak banyak orang mengetahuinya. Apa saja?

Hallo, Gus.

Kau sudah besarkah sekarang? Kau sudah di klas 1 SD sekarang? Bagaimana angka-angkamu? Ingin benar aku lihat kau.

Gagahkah kau? Pasti kau bakal gagah seperti kedua kakekmu. Kau rajin belajar dan membantu bunda bukan? Cium padamu, dan sampaikan juga cium papah pada semua kakakmu dan pada bundamu.

Ayahmu selalu,

 

Pram.

Surat itu tertanggal 6 Oktober 1972, atau tepat tiga tahun setelah si pencerita ulung meninggalkan keluarganya. Dia 'dibuang' ke Pulau Buru.

Baca Juga: Salah Prediksi, Dokter di India Potong Mr P Bayi yang Baru Lahir

Tak terbayang bagaimana orang itu, Pramudya Ananta Toer, di usia yang tak lagi muda, menahan kerinduan akan keenam putrinya dan putra satu-satunya, Yudisthira Ananta, yang pada saat itu baru menginjak tingkat pertama sekolah dasar.

Begitu banyak tanya di suratnya, menandakan rasa ingin tahunya akan kabar keluarganya yang terpisah sekian lama. Memastikan keluarganya tetap baik-baik saja meski dia terpaksa ditahan sebagai tahanan politik tanpa proses pengadilan di pulau terpencil di Timur Indonesia.

Surat menyurat memang sudah menjadi kebiasaan Pram dan keluarganya untuk bertukar kabar selama satu dekade mereka terpisah. Sayangnya, mereka harus mati-matian bersabar untuk menerima balasan dari sang ayah yang sepulangnya dari Pulau Buru memiliki hobi membakar sampah.

Itu diakui oleh salah satu putri Pram, Astuti Ananta Toer, "Kalau surat, kirim surat dari Jakarta ke Pulau Buru itu satu tahun. Lain halnya kalau ada pejabat yang mau ke Pulau Buru, kita baru titip," kepada BBC Indonesia usai membuka pameran 'Namaku Pram: Catatan dan Arsip' di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta.

Itu pun butuh waktu berbulan-bulan untuk menanti pejabat yang kebetulan akan berkunjung ke Pulau Buru.

BBC Indonesia 

"Pak Pram tuh biar pun dia di Pulau Buru, dia pasti mengirim surat selalu. 'Hormatilah ibumu, sayangilah ibumu, jangan sakiti hati ibumu'. Selalu dia bilang seperti itu di dalam surat," ungkap perempuan yang akrab disapa Titi itu.

Dalam surat-surat balasannya dengan tulisan tangan yang sangat rapi, Titi bercerita banyak hal, termasuk celotehnya soal cedera kepala yang harus dideritanya lantaran kecebur got.

Gaya bertuturnya sangat runtut dan lugas, mirip seperti ayahnya.

Mengenal Pram lebih dekat

Surat-surat Titi kepada sang ayah merupakan salah satu dari surat-surat anak-anak Pram yang kini sedang dipajang dalam pemeran bertajuk Namaku Pram di Dia.Lo.Gue artspace, Kemang.

Pameran arsip dan catatan penulis yang sudah menulis lebih dari 50 judul buku seumur hidupnya ini membuat kita lebih mengenal dia secara lebih dekat.

Pameran ini memperlihatkan bagaimana Pram mengumpulkan cerita, mencari data, menjilid potongan-potongan berita untuk kemudian dirangkai dan diceritakan kembali, melalui tokoh-tokoh yang telah menggerakkan pemuda-pemudi yang tak terhitung jumlahnya.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement