Sementara itu, Prof Inayati, anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) DIY menyatakan bukti sejarah sudah menunjukkan Hotel Tugu, memiliki sejarah besar dalam perjalanan bangsa. Bahkan ketika masa kolonial, Hotel Tugu menjadi transit pejabat Belanda yang melakukan perjalanan antara Surabaya-Jakarta menggunakan kereta api.
"Jaman dulu belum ada kereta malam. Karena itu saat berhenti untuk transit di Yogya, mereka menginap di Hotel Tugu," sebutnya kepada KRJOGJA.com, Selasa (3/4/2018).
Tentang nilai sejarah Hotel Tugu ini menurut Prof Inayati juga dapat ditemukan di beberapa literatur buku-buku sejarah terbitan lama yang mengisahkan bagaimana peran Hotel Tugu di masanya. Tidak berlebihan jika kemudian Hotel Tugu perlu dilestarikan keberadaannya karena nilai penting dan kandungan sejarah yang dimiliki.
Inayati juga sangat mendukung jika pengembangan Hotel Tugu akan membawa dampak positif bagi pengajuan Sumbu Filosofi sebagai warisan budaya dunia. Pasalnya tidak bisa dipungkiri, posisi Hotel Tugu di jalur Sumbu Filosofi akan sangat mendukung upaya maju ke tingkat dunia.
"Sebenarnya saya melihat ada dua bangunan di sepanjang Sumbu Filosofi yang perlu mendapat perhatian secepatnya. Selain Hotel Tugu, ada satu bangunan di samping sebelah selatan pintu masuk Kantor Gubernur DIY Kepatihan Jalan Malioboro yang kondisinya memprihatinkan. Padahal itu juga jadi satu penanda sejarah. Saya sempat mengalami kejayaan bangunan itu ketika kecil karena sering lewat jalan kaki di Jalan Malioboro kalau ke sekolah. Semoga saja juga segera ada perhatian," ucapnya.
(Risna Nur Rahayu)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.