MENGAWETKAN mayat menjadi mumi ternyata juga dilakukan bangsa Afrika pada masa lalu. Salah satu buktinya adalah sebuah mumi dari pejuang Afrika yang masih berdiri tegak.
Tidak hanya itu saja, mumi yang sempat dipamerkan dalam sebuah lemari kaca setinggi tinggi badan mumi tersebut, pun masih memiliki bentuk tubuh yang baik, anggota tubuhnya lengkap, dan wajahnya masih lengkap organnya, seperti mata, bibir, hidung, hingga rambut. Mumi yang dikenal dengan nama El Negro tersebut pernah dipamerkan di Museum Darder Natural Histroy di Kota Banyoles, dekat dari Barcelona, Spanyol.
Mengutip dari Amusing Planet, Kamis (25/1/2018) mumi yang masih lengkap anggota tubuhnya itu memiliki ciri-ciri fisik, di antaranya, tinggi kira-kira empat setengah kaki, yang setara dengan 137,16 sentimeter, postur badannya sedikit membungkuk, bahunya terangkat, dengan tombak berada pada salah satu tangan dan satu perisai di tangan lainnya. Tubuhnya juga hitam seperti arang, dengan rambut yang keriting.
Selama lebih dari satu abad, generasi orang Eropa tercengang pada tubuh mumi dari prajurit Afrika tanpa nama ini. Mereka memaksa pemerintah Spanyol untuk mengirim kembali mumi tersebut kembali ke tanah airnya di Botswana untuk mendapatkan penguburan yang tepat.
Akhirnya mumi El Negro kembali ke tanah airnya, namun beberapa waktu kemudian ia justru kembali dipajang di sebuah ruang pamer, hingga kemudian diakuisisi oleh Darder Museum. Mumi diberi semir lagi agar lebih hitam dan mulai sejak itulah ia dikenal oleh pengunjung sebagai El Negro.
Dalam museum, El Negro di tempatkan satu ruangan bersama kerangka gorila, kucing, dan mamalia lainnya yang diawetkan. Kehadiran El Negro lagi-lagi menuai protes, pada awal 1990-an, Alphonse Arcelin, seorang dokter asal Haiti, menulis surat yang ditujukan untuk walikota Banyoles. Surat yang ditulisnya berisi protes dan memintanya untuk melepaskan jenazah orang Afrika dari lemari kaca.
Permintaan Arcelin menarik perhatian dan mendapat dukungan dari banyak tokoh terkemuka di seluruh dunia, seperti Kofi Annan, Asisten Sekretaris Jenderal PBB, yang mengecam pameran tersebut sebagai tindakan menjijikan dan akhirnya bisa mengembalikan mumi ke Botswana. Namun, hal tersebut menimbulkan pertentangan, karena orang-orang Catalan telah sangat menyukai mumi prajurit tersebut dan enggan menyerahkannya.
Setelah berlarut-larut, baru pada Maret 1997 museum gagal mempertahankan kehadiran El Negro, akhirnya mumi disemayamkan tiga tahun kemudian. Dalam sebuah peti mati El Negro dikuburkan. Pada 5 Oktober 2000 dia disemayamkan di pemakaman Kristen di Kota Gaborone. Meskipun belum diketahui namanya, tapi mumi prajurit ini meninggal pada usia sekira 27 tahun akibat peneumonia.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.