Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

KLB Difteri dan Dilema Masyarakat Indonesia terhadap Vaksinasi

Dimas Andhika Fikri , Jurnalis-Selasa, 12 Desember 2017 |11:28 WIB
KLB Difteri dan Dilema Masyarakat Indonesia terhadap Vaksinasi
Ilustrasi (Foto: DNAindia)
A
A
A

KEMENTERIAN Kesehatan RI telah melakukan berbagai upaya guna menanggulangi wabah difteri yang kian meresahkan masyarakat Indonesia. Salah satunya dengan melakukan vaksinasi secara serentak di DKI Jakarta, Jawa Barat, dan Banten.

Namun ternyata, penyakit yang masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB) ini juga mulai menyebar di sejumlah daerah di Indonesia. Kasus difteri paling banyak ditemukan di Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur. Jumlahnya mencapai angka 46 kasus di sepanjang tahun 2017. Sedangkan total kasus difteri di Jatim sendiri berjumlah 318 kasus, dan 12 di antaranya meninggal dunia.

Hal ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar di tengah masyarkat Indonesia, apa sebetulnya langkah yang tepat untuk mencegah dan menanggulangi wabah difteri?

Sejumlah dokter telah menegaskan bahwa kasus difteri muncul lantaran minimnya kesadaran akan pentingnya vaksinasi. Bukan tanpa sebab, penolakan vaksin ini ternyata dilatarbelakangi oleh sejumlah faktor yang sempat menyulut pro dan kontra.

"Di samping alasan agama, kebanyakan yang saya dengar dari beberapa perdebatan, ternyata banyak yang berpikir bisa mengembangkan kekebalan tubuh secara alami jika menerapkan pola hidup sehat," tutur Tirta Prawitasari, ahli gizi dari PDRC, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin 11 Desember 2017.

Tak sedikit pula yang beranggapan bahwa vaksin juga bisa menimbulkan efek samping yang dapat membahayakan jiwa pasien.

"Banyak yang mengeluh, setelah diberi vaksin malah justru timbul panas. Contohnya di NTB, sesudah divaksinasi sang anak jadi panas dan meninggal dunia. Tapi itu sudah dibantah oleh Kemenkes, dan penyebabnya bukan karena vaksin," ujar DR Yustina Anie Indriastuti, salah satu anggota PDRC.

Baca Juga:

Berdasarkan pemaparan Profesor Endang L. Achadi, Ketua Perhimpunan Dokter Gizi Medik Indonesia (PDGMI), efek samping itu muncul karena ada reaksi dari bakteri yang dilemahkan. Vaksin memang sengaja dimasukkan ke dalam tubuh untuk membentuk anti-body khusus yang dapat menangkal berbagai penyakit berbahaya.

"Seseorang yang imunitasnya baik, ketika diberi vaksin kondisinya juga akan baik. Apa indicakatornya? Suhunya naik. Itu tanda vaksin merespons bahwa ada kuman yang dilemahkan. Justru kalau tidak ada reaksi sama sekali, akan membuat orang bertanya-tanya apakah dosis vaksinnya kurang. Kecuali kalau panasnya tidak berhenti-henti, itu yang harus ditindaklanjuti," tutur Endang.

Vaksin difteri haram?

Beberapa masyarakat enggan membawa anaknya untuk divaksin karena beranggapan bahwa vaksin yang diberikan tidak halal dan sesuai dalil Islam. Ini kemudian menjadi polemik di masyarakat apakah harus memberikan vaksin kepada anaknya atau tidak.

Menanggapi keresahan masyarakat yang terjadi, Nasaruddin Umar selaku Imam Besar Masjid Istiqlal memberikan penjelasan bahwa seharusnya masyarakat tidak perlu khawatir tentang haram tidaknya vaksin yang diberikan. Dalam Islam, ada keadaan di mana kita diperbolehkan untuk menghalalkan segala cara jika sudah menyangkut nyawa. Misalnya, dalam keadaan darurat umat Islam boleh mengonsumsi babi pada hari di mana tidak ada lagi makanan yang bisa dimakan selain babi tersebut.

”Masyarakat tidak perlu panik dan khawatir tentang anggapan bahwa vaksin tersebut haram, karena dalam hal ini kita sebaiknya mengutamakan keselamatan nyawa anak-anak kita dengan upaya pencegahan melalui penyuntikan vaksin tersebut.” ujarnya saat dihubungi via telepon oleh Okezone.

“Saya juga berharap agar pemerintah khususnya Kementerian Agama segera memberikan pernyataan mengenai keresahan di antara masyarakat ini. Klarifikasi sangat diperlukan agar tercapai jalan keluar dari masalah yang ada.” lanjutnya.

Sementara itu, difteri disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheria yang menyerang saluran pernapasan sehingga penderitanya merasa kesulitan bernapas. Untuk, itu sebelum persebaran kuman ini semakin meluas, kita juga harus cepat dalam upaya pencegahan penyakit ini.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement