FAHRIZAL (25) salah satu pasien difteri yang dirawat di RSPI Sulianti Suroso. Pertama kali ke dokter, dia dicurigai mengalami gejala difteri yang menjadi wabah saat ini.
Ibunya Satiah (45) menunggu anak pertamanya itu di deretan bangsal rumah sakit. Dia menceritakan gejala awal yang dialami anaknya yang diduga menderita difteri.
Pria yang bekerja sebagai office boy di TK Al-Ridho, Gandul Depok, Jawa Barat, tersebut Sabtu (9/11/2017) mengalami demam tinggi, sakit kepala berat, susah menelan, hingga gejala mual. Lalu, dia segera dibawa ke RSUD Depok dan diperiksa pertama kalinya.
BACA JUGA:
Ini Lho Jenis dan Jadwal Pemberian Vaksin Difteri yang Perlu Diketahui
"Pas menggigil, saya bawa anak itu ke RSUD Depok, lalu disuruh pindah ke RS Permata Indah, karena obatnya enggak ada. Sabtu malam itu dirujuk ke sini (RS Sulianti Saroso-red) dan positif difteri," katanya saat berbincang dengan Okezone di RS Sulianti Saroso, Jakarta Utara, Senin (11/12/2017).
Saat pemeriksaan, dokter melakukan rontgen hingga tes darah. Dua rumah sakit yang didatangi oleh Fahrizal sulit mendeteksi karena keterbatasan obat dan ruang isolasi.
Selama perawatan di rumah sakit di kawasan Sunter tersebut pasien diberikan obat suntikan anti difteri serum (ADS). Selama dua hari perawatan kondisi pasien kian membaik.
"Minggu habis maghrib sempat sesak napas, karena tenggorokannya tertutup lendir gitu kata dokter. Sempat dibantu oksigen, tapi sekarang sudah lepas," imbuhnya.
Satiah mengaku di lingkungan tetangga dan keluarganya tidak ada yang mengalami difteri. Maka kecurigaan sumber penyakitnya pun belum diketahui pasti.
Saat ditanya, apakah Fahrizal mendapatkan imunisasi lengkap semasa kecil, sayang jawabannya tidak. Satiah mengaku lupa karena banyak anak yang harus dirawat.
Besar kemungkinan anaknya yang sudah menikah itu terkena difteri akibat tidak imunisasi lengkap dan sistem kekebalan tubuhnya menurun.
BACA JUGA:
Difteri Tak Hanya Serang Anak-Anak, Orang Dewasa Juga Perlu Vaksin!
"Pas bayi enggak dapat lengkap imunisasinya. Saya lupa, karena anak saya tiga dan ingatnya cuma polio," bebernya.
Dalam masa perawatan dan penyembuhan Fahrizal, dokter menyatakan butuh waktu 7-10 hari agar pasien sembuh total. Kepada keluarganya juga disarankan untuk imunisasi ulang dan pencegahan khusus.
"Dokter bilang anak saya sembuhnya 7-10 hari. Obat suntik difteri dan paracetamol juga diberikan supaya kondisinya membaik," pungkas Satiah.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.