Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

5 Ciri Terjangkit Difteri dan Cara Pertolongan Pertamanya

Muhammad Sukardi , Jurnalis-Senin, 11 Desember 2017 |15:59 WIB
5 Ciri Terjangkit Difteri dan Cara Pertolongan Pertamanya
Ilustrasi (Foto: Momjunction)
A
A
A

JANGAN panik! Meski kasus difteri kembali mencuat di Indonesia, bahkan dikatakan sebagai salah satu kejadian luar biasa (KLB), Anda dihimbau untuk tidak terlalu takut akan penyakit ini. Penyakit Difteri sendiri menurut data Kemenkes telah menyerang 11 provinsi pada Oktober – November 2017.

Data terkait dengan penyakit ini pun sudah keluar, di mana Pasuruan menjadi wilayah paling banyak mengalami wabah ini. Jumlah kasus di wilayah ini sebanyak 46 kasus. Khusus di Jawa Timur, secara keseluruhan ada 318 kasus dengan 12 kasus di antaranya korban anak meninggal dunia.

Pemerintah pun tidak tinggal diam. Beberapa solusi dikeluarkan untuk menekan penularan penyakit difteri. Kemudian, masyarakat pun dihimbau untuk tidak terlalu panik, karena sebetulnya wabah ini dapat dihentikan dengan beberapa cara sederhana. Salah satunya adalah tetap menjaga kebersihan rumah dan menjaga anggota keluarga tetap dalam kondisi sehat.

Nah, belum lama ini Kementerian Kesehatan RI mengeluarkan fakta mengenai penyakit ini. Dijelaskan data Kemenkes tersebut, sebetulnya penyakit Diferi sendiri adalah penyakit menular yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae. Paparan kuman ini biasanya ditandai dengan adanya peradangan, terutama pada selaput bagian dalam saluran pernapasan bagian atas, hidung, dan juga kulit.

Perlu Anda ketahui, penyakit ini sangat mudah menular dan berbahaya, karena dapat menyebar dengan mudah dan mengakibatkan kematian.

Kemudian, dampak dari penyakit ini yang paling sering terjadi adalah tersumbatnya saluran pernapasan dan terjadi gagal jantung. Hal ini tentunya akan menyulitkan pasien khususnya pasien anak. Di mana, mereka mungkin masih belum dapat mengenali kondisi kesehatannya.

Selanjutnya, apa sih ciri-ciri penyakit ini?

Kemenkes menjabarkan ada 5 ciri-ciri utama penyakit ini, antara lain:

1. Tubuh akan mengalami demam dengan suhu kurang lebih 38 derajat celcius.

2. Ada selaput putih keabu-abuan pada tenggorokan.

3. Sakit waktu menelan.

4. Leher membengkak seperti leher sapi (bullineck). Hal ini disebabkan karena pembengkakan kelenjar leher.

5. Sesak napas disertai bunyi yang keluar dari tenggorokan (stridor).

Kemenkes juga memberikan pandungan terkait dengan pertolongan pertama yang bisa Anda lakukan jika salah satu di antara keluarga Anda ada yang memiliki 5 tanda di atas. Pertolongan pertama yang bisa dilakukan yang pertama adalah datang ke pelayanan kesehatan untuk mendapatkan penjelasan lebih detail kondisi kesehatan pasien.

Kedua adalah segera melapor ke Dinas Kesehatan setempat. Hal ini dilakukan agar adanya pertolongan darurat dan menjadi data pemerintah juga untuk nantinya dapat menanggulangi masalah tersebut dan mampu meminimalisir penyebaran kuman di wilayah tersebut.

Dan terakhir adalah melaksanakan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Ini sebetulnya menjadi kunci paling utama. Jika pasien menjalani pengobatan tetapi lingkungan di sekitarnya tidak bersih dan sehat, ya, sama saja. Tidak ada pencegahan lebih kuat dari sisi tempat tinggal atau lokasi penyembuhan pasien.

Makanya, di musim hujan seperti ini, masyarakat dihimbau untuk ekstra lebih dalam menjaga kebersihan tempat tinggal. Sebab, udara yang lembab dan kotor menjadi sarang paling aman bagi kuman dan bakteri bersemayam.

Baca Juga:

Sementara itu, perlu Anda ketahui bahwa Difteri dapat dicegah! Menurut data Kemenkes, Difteri dapat dicegah dan disembuhkan apabila pasien tidak terlambat dalam mendapatkan pertolongan. Nah, pencegahan penyakit pun perlu dilakukan.

Menurut Kemenkes, imunisasi menjadi salah satu cara terbaik dalam menjaga keluarga dari paparan kuman mematikan ini. Imunisasi sendiri sudah dapat dilakukan di unit pelayanan kesehatan terdekat. Terkait dengan bagaimana prosedur imunisasinya, Kemenkes membaginya dalam dua kelompok; imunisasi bagi bayi dan baduta (usia di bawah 2 tahun).

Jadi, bayi berusia 0-11 bulan wajib mendapatkan 3 dosis imunisasi dasar DPT-HB-Hib pada usia 2,3, dan 4 bulan. Kemudian dilanjutkan dengan 1 dosis DPT-HB-Hib pada usia 18 bulan.

Sementara itu, untuk anak sekolah dasar atau sederajat kelas 1 wajib mendapatkan 1 dosis imunisasi DT. Anak sekolah dasar atau sederajat kelas 2 dan 5 wajib mendapatkan imunisasi Td.

(Helmi Ade Saputra)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement