MASYARAKAT dihebohkan kembali dengan status terduga kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia. Pemerintah menilai alasannya terjadi karena capaian imunisasi wajib kurang dari target minimal.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI, mulai Januari-November 2017 ada laporan penyakit difteri dari 20 provinsi. Dari 593 kasus, 32 di antaranya meninggal dunia atau sekira 5,4%.
Diagnosis difteri berdasarkan klinis, pasien mengalami demam dengan masa inkubasi 3-5 hari. Ditambah dengan gejala seperti infeksi saluran pernapasan dan ciri khasnya yakni ada membran putih tebal tampak di tenggorokan.
Difteri merupakan salah satu penyakit yang cepat menular. Tidak pandang siapa saja yang kena, baik anak-anak dan orang dewasa. Sepanjang kasus ada anak usia paling kecil yakni 3,5 tahun yang mengidap penyakit tersebut. Sementara pasien paling tua yakni berusia 42 tahun.
"Mapping difteri ini bikin kita heboh, begitu lapor kondisinya langsung merah. Data yang sudah diverifikasi minggu ke-4 ada tiga provinsi dengan kasus besar yakni Banten, DKI Jakarta dan Jawa Barat. Kita komitmen untuk mengimunisasi ulang anak usia 1-19 tahun," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr H M Subuh, MPPM saat ditemui di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2017).
Pada kesempatan itu, masing-masing kepala dinas dengan suspect KLB difteri melaporkan masing-masing kasusnya. Di DKI Jakarta, sepanjang melaporkan terdapat 25 pasien yang dua di antaranya meninggal dunia. Penyebaran difteri di DKI Jakarta sulit dikendalikan, karena banyak orang yang keluar masuk dengan mudahnya.
Benarkah Rokok Elektrik Aman Dihisap Daripada Rokok Tembakau? Simak Fakta Berikut
"Saat melakukan imunisasi ulang harus dipertimbangkan, supaya difteri tifak menyebar kemana-mana. DKI Jakarta susah sekali dikendalikan. Awal difteri ada di Tangerang, tapi dibawa ke sini. Paling banyak pasiennya ada di Jakarta Utara dan Jakarta Timur," tambah Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi.
Sementara, ungkap perwakilan dari Dinas Kesehatan Provinsi Banten, terdapat 63 kasus dengan angka kematian 9 orang. Di wilayah Serang dan Tangerang akan dilakukan outbreak respon imunisasi yang diwajibkan pemerintah pusat.
Untuk wilayah Jawa Barat, hingga hari ini terdapat 123 kasus yang tersebar di 18 kabupaten/kota dari 27 kasus. Dengan jumlah kematian 13 orang yang dilaporkan.
Sayangnya, kasus difteri terjadi lagi akibat kurangnya cakupan target imunisasi. Banyak sekali anak-anak yang tidak mendapatkan vaksin difteri lengkap atau malah tidak mendapatkan imunisasi sama sekali.
Dibeberkan Subuh, sebanyak 66 persen kasus difteri terjadi karena anak tidak mendapatkan imunisasi sama sekali. Lalu sekira 31% imunisasi tidak lenglap dan hanya 3% anak yang mendapatkan imunisasi lengkap.
Bumil Alami Kecemasan Berbeda di Setiap Trimester, Suami Harus Lakukan Apa?
Dia menegaskan agar orangtua mengecek status imunisasi anaknya. Sebaiknya mengulang pemberian vaksin yang sudah disiapkan pemerintah.
"Saya harap tidak ada penolakan vaksin di beberapa kelompok masyarakat. Pengulangan vaksin ini sifatnya wajib karena itu hak anak. Kita harus capai 95%, paling baik ya 100%," pungkasnya.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.