STATUS suspect Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit difteri mulai dihebohkan masyarakat. Untuk mencegah penularannya, pemerintah bakal mengulang pemberian imunisasi difteri yang berlangsung mulai pekan depan.
Adapun jenis vaksin yang disiapkan yakni tetanus difteri (TD). Vaksin ini adalah salah satu jenis booster pencegah penyakit difteri yang menular.
Berdasarkan laporan status KLB difteri sejak Januari-November 2017, ada 20 provinsi yang melaporkan kejadian ini. Langkah yang dilanjutkan oleh pemerintah yakni melakukan Outbreak Respons Immunization (ORI) yang dilakukan di daerah yang dinyatakan suspect KLB.
"Kita akan melakukan ORI dengan rumus 0-1-6. Penyuntikan pertama perlu proses 8 bulan untuk evaluasi kasus difteri di tempat yang dilakukan. Kita siapkan segala macam logistik yang dibantu pemerintah daerah," ujar Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan RI dr. H. M. Subuh, MPPM di kawasan Salemba, Jakarta Pusat, Rabu (6/11/2017).
Mulai 11 Desember 2017, pemerintah pusat mengutus 3 wilayah tertinggi kasus difteri yang saat ini terjadi. Yakni DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
Dari 20 provinsi yang melaporkan suspect KLB difteri, terdapat 593 kasus dengan angka kematian 32 atau sekira 5,4%. Hal ini harus dipertimbangkan supaya tidak mengganggu masyarakat.
Bagi para orangtua diimbau kembali untuk mengecek status imunisasi anaknya sejak kecil. Karena hal ini penting diingat agar tidak menjadi positif KLB difteri.
(Baca Juga: Waspada Penularan Difteri, Kenali Gejala Penyakitnya Sekarang)
Pemerintah menegaskan, para orangtua wajib memberikan imunisasi ulang kepada anaknya yang berusia 1-19 tahun. Sifatnya ini wajib demi mencegah status positif penyakit yang cepat menular itu.
"Dalam ORI nanti kita harapkan sudah tidak ada penolakan. Cakupannya yakni 95% anak mendapatkan imunisasi karena itu hak mereka," tegas Subuh.
(Baca Juga: Waspada! Purwakarta Punya Riwayat KLB Difteri)
Sementara difteri terjadi akibat mikrobakterium jenis Corynebacterium. Penularan difteri terjadi lewat droplet atau percikan air liur dan sisa-sisa bersin.
Gejalanya pun mudah dikenali dengan kasat mata. Pasien biasanya mengalami demam dengan masa inkubasi 2-5 hari, ditambah batuk, pilek, dan terdapat membran putih tebal di tenggorokan. (tam)
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.