PERNIKAHAN Kahiyang Ayu dan Bobby Nasution hari ini dilangsungkan. Kemeriahan kirab kereta kencana hingga kebahagiaan dari berbagai kalangan masyarakat pun sungguh terasa.
Kahiyang Ayu atau yang lebih akrab disapa Mbak Ayang tampil cantik dengan riasan Solo Putri, lengkap dengan paes berwarna hitam. Dengan pulasan Solo Putri Mbak Ayang terlihat bak putri raja Jawa yang anggun dan elegan.
Bila Kahiyang memilih pulasan wajah Solo Putri dengan paes hitam, masih ada beberapa pulasan wajah pengantin khas Jawa yang juga cantik, seperti corak paes ageng, corak paes ageng jangan menir, corak paes ageng kanigaran, corak yogya putri, corak kasatriyan ageng, Solo basahan dan Solo putri, seperti yang dipilih Mbak Ayang dihari pernikahannya.
Khusus pada paes Solo basahan dan Solo putri yang dipilih oleh Mbak Ayang, perbedaannya hanya pada bahan pulasan yang digunakan. Pada paes Solo basahan, bahannya menggunakan pidih berwarna hijau, sementara pada paes Solo putri yang membuat Mbak Ayang tampak begitu berhasil memalingkan perhatian, menggunakan cengkorong diisi dengan pidih berwarna hitam.
Bila kita perhatikan, bentuk-bentuk paes yang dilukiskan pada dahi pengantin wanita, khususnya Mbak Ayang pada hari ini, memiliki rupa yang berbeda ukurannya. Pada bagian tengah dahi, bentuknya lebih lebar dari yang sisi kanan-kirinya, hal tersebut memiliki makna tersendiri yang tidak hanya mempercantik penampilan pulasan wajah pengantin wanita.
Dikumpulkan Okezone dari berbagai sumber, Rabu (8/11/2017), berikut makna-makna dari bentuk paes pengantin wanita khas Jawa yang mendalam dan mempercantik penampilan.
1. Penunggul atau gajahan
Bentuk paes yang paling besar dan letaknya di tengah-tengah ini memiliki makna kedua mempelai agar dapat menjadi pasangan yang sempurna. Mempelai wanita di budaya Jawa selalu dihormati dan ditinggikan derajatnya.
2. Pengapit
Perhatikan sisi kanan-kiri yang mengapit gajahan, maka ada bentuk paes yang lebih kecil dan meruncing ujungnya. Nah, pengapit tersebut artinya diharapkan kehidupan pernikahan kedua mempelai memiliki jalan yang selalu lurus, tidak menemui aral melintang yang berarti dalam mengarungi bahtera rumah tangga kelak.
3. Penitis
Bentuk paes setelah pengapit ini ialah penitis, yang memiliki makna agar kehidupan pernikahan yang dijalani sesuai tujuan dan tepat sasaran. Tujuan yang harus dimiliki oleh kedua mempelai demi kebahagiaan bersama, seperti yang dikatakan oleh Mbah Kung Tukimin, saat kedua orang memutuskan untuk hidup bersama, maka tidak lagi ini punyaku, itu punya mu, tapi ini punya kita.
4. Godheg
Godheg merupakan bentuk paes yang terakhir menutup semua riasan yang ada di dahi pengantin wanita. Godheg bermakna agar kedua pengantin bisa selalu introspeksi diri dan dalam melaksanakan kehidupan rumah tangga, tidak gegabah atau terburu-buru dalam mengambil keputusan.
Terakhir, pada paes Yogya atau Solo, semua bentuknya memiliki lengkungan yang mengarah ke ujung hidung, memiliki arti pengantin wanita diharapkan dapat menjadi istri yang lembut dan rendah hati dalam bersikap.
SUMBER:
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.