Acara penyerahan karya seni Indonesia ini juga dimanfaatkan sebagai forum promosi budaya Indonesia dengan menampilkan kelompok musik gamelan Jawa yang seluruhnya dimainkan orang asing, dan dua tarian tradisional Indonesia dari kelompok Joged Nusantara.
Keduanya merupakan asuhan KBRI Paris. Acara ditutup dengan resepsi singkat dengan suguhan makanan khas Indonesia yaitu nasi kuning, sate marangi, rendang ayam, repeyek, dan lain-lain.
Fauzi Soelaiman mengatakan dua tahun lalu dilakukan pementasan Angklung Mang Udjo di Gedung Teater Odeon yang megah di jantung kota Paris. Rencananya pada saat itu angklung akan diserahkan berhubung satu dan lain hal, Klungbot ini baru diserahkan Walikota Bandung, Ridwan Kamil, kepada Kantor Delegasi Tetap RI di UNESCO pada 2016.
(Baca Juga: Turun-temurun, 2 Keluarga Besar Ini Punya 12 Jari Tangan dan 12 Jari Kaki!)
Kemudian di tahun 2016 dilakukan perayaan 25 tahun Kompleks Candi Borobudur dan Kompleks Candi Prambanan yang pada tanggal 13 Desember 1991 tercatat sebagai Warisan Dunia (World Heritage) di UNESCO dengan menggelar Sendratari Ramayana dari Prambanan di Kantor Pusat UNESCO.
Pada saat itu, PT. Taman Wisata Candi (PT. TWC) menyerahkan Miniatur Kompleks Candi Prambanan yang terbuat dari kayu dan dipotong dengan teknologi laser, serta ukiran dari kayu jati Kapal Samudraraksa yang menyerupai ukiran di Candi Borobudur seberat 200 kg.
Pada saat yang sama, Kemdikbud juga menyerahkan replika perunggu dari Tengkorak Manusia Purba Sangiran. Penyerahan ini memperingati 20 tahun Situs Sangiran yang pada tanggal 7 Desember 1996 telah tercatat sebagai Warisan Dunia di UNESCO.
Karena Unesco hanya menerima karya seni yang unggul, maka semua pemberian karya seni harus melewati persetujuan sebuah badan ACWA (Advisory Committee on Works of Art) dengan anggota beberapa kurator museum terkenal di Prancis, termasuk Museum Louvre.
Setelah melewati perdebatan yang cukup panjang, akhirnya keempat karya seni Indonesia diterima pada bulan Desember 2016. Sementara itu, karya seni dari Tiongkok dan Filipina ditolak atau ditunda.
Atas saran ACWA, akhirnya Dirjen UNESCO mengeluarkan surat penerimaan keempat karya seni ini yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyerahan dari Kantor Delegasi Tetap RI di Unesco kepada Dirjen UNESCO pada acara ini. Berhubung proses yang harus dilalui cukup panjang, acara ini serasa seperti baru melunasi utang, ujar T. A. Fauzi Soelaiman.
Menurut T. A. Fauzi Soelaiman, sebelumnya hanya ada dua karya seni Indonesia yang tercatat di Unesco yaitu Lukisan Kumbakarna oleh Nyoman Mandra yang diserahkan ke Unesco di tahun 1977 dan Miniatur Candi Borobudur yang diserahkan di tahun 1978.
Dengan pemberian empat karya seni di acara ini, maka koleksi karya seni Indonesia menjadi tiga kali lipat. Sebenarnya ada satu lagi karya seni Indonesia yang ada di UNESCO yaitu Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang diserahkan ke UNESCO pada 2008, namun belum tercatat secara resmi di UNESCO.
(Muhammad Saifullah )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.