Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Moms Wajib Tahu! Stunting, Kondisi Tubuh Anak Pendek Ternyata Berbahaya

Agregasi Hellosehat.com , Jurnalis-Minggu, 08 Oktober 2017 |18:29 WIB
<i>Moms</i> Wajib Tahu! <i>Stunting</i>, Kondisi Tubuh Anak Pendek Ternyata Berbahaya
Anak pendek ternyata berbahaya (Foto: Google)
A
A
A

TIDAK hanya berat badan, orangtua harus memantau ukuran tinggi sang anak. Pasalnya, kondisi tubuh anak pendek ternyata berbahaya.

Kebanyakan orangtua hanya melihat perkembangan dan pertumbuhan anaknya dari berat badan saja. Jika berat badan cukup atau melihat pipi anaknya sudah sedikit tembam, maka dianggap anak tersebut sudah sehat. Padahal, tinggi badan tak kalah penting untuk dipantau.

Banyak yang tidak menyadari bahwa anak pendek adalah permasalahan gizi yang cukup buruk bagi kesehatan anak. Apa dampak dari tinggi badan anak pendek? Apa penyebabnya?

Tubuh anak pendek bisa jadi tanda gangguan pertumbuhan stunting

Stunting adalah kondisi di mana anak mengalami gangguan pertumbuhan sehingga menyebabkan ia lebih pendek ketimbang teman-teman seusianya. Banyak yang tak tahu kalau anak pendek adalah tanda dari adanya masalah pertumbuhan si kecil. Apalagi, jika stunting dialami oleh anak yang masih di bawah usia 2 tahun. Hal ini harus segera ditangani dengan segera dan tepat. Pasalnya stunting adalah kejadian yang tak bisa dikembalikan seperti semula jika sudah terjadi.

Kondisi ini disebabkan oleh tidak tercukupinya asupan gizi anak, bahkan sejak ia masih di dalam kandungan. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 20% kejadian stunting sudah terjadi ketika bayi masih berada di dalam kandungan. Kondisi ini diakibatka oleh asupan ibu selama kehamilan kurang berkualitas, sehingga nutrisi yang diterima janin sedikit. Akhirnya, pertumbuhan di dalam kandungan mulai terhambat dan terus berlanjut setelah kelahiran.

Selain itu, stunting juga bisa terjadi akibat asupan gizi saat anak masih di bawah usia 2 tahun tidak tercukupi. Entah itu tidak diberikan ASI eksklusif ataupun MPASI (makanan pendamping ASI) yang diberikan kurang mengandung zat gizi yang berkualitas.

Banyak teori yang menyatakan bahwa kurangnya asupan makanan yang mengandung zink zat besi, serta protein ketika anak masih berusia balita, adalah salah satu faktor utama yang menyebabkan kejadian ini.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement