Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

OKEZONE WEEK-END: Kenapa Selalu Ada Tumpeng di Setiap Acara Syukuran? Ini Alasannya!

Annisa Amalia Ikhsania , Jurnalis-Sabtu, 30 September 2017 |09:10 WIB
OKEZONE WEEK-END: Kenapa Selalu Ada Tumpeng di Setiap Acara Syukuran? Ini Alasannya!
Nasi tumpeng (Foto: Wikipedia)
A
A
A

SIAPA yang tak mengenal tumpeng? Gunungan nasi kuning yang dikelilingi dengan beragam lauk pauk ini hampir tak pernah absen di perayaan ulang tahun maupun syukuran, terutama di daerah Jawa.

Ya, memang bukan rahasia lagi, bila tumpeng selalu menjadi simbol untuk merayakan pertambahan usia. Namun, tak hanya itu, hidangan ini juga wajib hadir dalam perayaan-perayaan penting.

Menilik dari sejarahnya, dirangkum dari berbagai sumber, sajian tumpeng memang dibuat untuk memuliakan gunung sebagai tempat bersemayam para nenek moyang. Filosofi ini juga berkaitan erat dengan kondisi geografis Indonesia yang dipenuhi jajaran gunung berapi.

Tradisi ini dulu sering dilakukan oleh umat Hindu di Nusantara. Seiring dengan masuknya ajaran Islam ke Indonesia, tradisi tumpeng pun tetap dilakukan namun falsafahnya disesuaikan dengan ajaran Islam.

Menurut tradisi Islam di Jawa, tumpeng ini dianggap sebagai pesan leluhur mengenai permohonan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Pada tradisi kenduri selametan oleh masyarakat Islam di Jawa, sebelum tumpeng disajikan, terlebih dahulu digelar pengajian dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an.

Tumpeng merupakan bagian penting dalam perayaan kenduri tradisional. Perayaan atau kenduri adalah rasa syukur dan terima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas melimpahnya hasil panen dan berkah lainnya.

Lantaran memiliki nilai rasa syukur dan perayaan, hingga kini tumpeng seringkali berfungsi menjadi kue ulang tahun dalam perayaan pesta ulang tahun. Lantas, mengapa masyarakat Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, Bali, dan Madura, menggunakan tumpeng sebagai simbol rasa syukur?

Menurut tradisi Islam di Jawa, ‘tumpeng’ merupakan akronim dari bahasa Jawa, yaitu yen metu kudu sing mempeng, yang memiliki arti kalau keluar harus dengan sungguh-sungguh). Warna nasi kuning atau putih pada tumpeng juga memiliki arti khusus. Kuning ditandai dengan warna emas, simbol kemuliaan yang megah. Sedangkan, warna putih selama ini diketahui sebagai sebuah simbol kesucian.

Biasanya, lauk pauk yang mengiringi gunungan nasi tumpeng jumlahnya ada tujuh. Hal ini bukan tanpa alasan, angka tujuh dalam bahasa Jawa disebut dengan pitu, yang berarti adalah pitulungan (pertolongan).

Setiap komponen pada nasi tumpeng memiliki filosofi tertentu. Mulai dari nasinya yang melambangkan sesuatu yang kita makan seharusnya berasal dari sumber yang bersih dan halal. Bentuknya yang kerucut diartikan sebagai harapan agar hidup selalu sejahtera.

Sementara, dari segi lauk pauknya, ayam menjadi lauk wajib pada sajian tumpeng, yang biasanya menggunakan ayam jantan yang dimasak utuh. Pemilihan ayam jantan memiliki makna menghindari sifat-sifat buruk ayam jago: sombong, congkak, dan tidak setia. Selain itu, ada ikan teri yang diartikan sebagai contoh kebersamaan dan kerukunan.

Nasi tumpeng juga sering dilengkapi dengan telur rebus utuh. Hal ini melambangkan bila semua tindakan harus direncanakan (dikupas), dikerjakan sesuai rencana, dan dievaluasi hasilnya demi kesempurnaan.

 BACA JUGA:

Pelengkap lainnya yang tak boleh tertinggal adalah sayur urab. Sayuran yang digunakan antara lain kangkung, bayam, kacang panjang, taoge, kluwih dengan bumbu sambal parutan kelapa atau urap dan lain-lain.Seperti halnya pelengkap lainnya, sayur-sayuran ini juga mengandung simbol-simbol penting.

(Dinno Baskoro)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement