Perempuan yang hamil di usia 20 juga rentan terhadap perubahan emosional. Perasaan seseorang tentang kehamilan sangat bergantung pada hal-hal lain dalam hidupnya. Namun beberapa perempuan yang menunda karier untuk memiliki bayi akan merasa kesal pada awalnya, menurut seorang psikoterapi di Woodland Hills, California, Diane Ross Glazer, Ph.D.
“Kekhawatiran lain adalah gambaran tubuh, yang merupakan masalah lebih besar bagi kebanyakan wanita berusia 20-an daripada mereka yang lebih tua. Selain itu, seorang perempuan di usia ini cenderung lebih fokus pada pernikahannya daripada pada bagian lain kehidupannya, seperti pekerjaannya. Dan menambahkan orang ketiga dalam hubungan mungkin sulit,” ujar Glazer.
Risiko pada bayi
Selain menimbulkan risiko pada sang ibu, bayi juga dapat mengalami risiko. Tingkat keguguran terendah pada perempuan yang hamil di usia 20-an adalah sekira 9,5%. Hal ini dikarenakan sel telur di usia tersebut masih tergolong muda.
Selain risiko keguguran, kemungkinan besar bayi dapat memiliki cacat lahir seperti Down Syndrome (terjadi dalam 1 dari 1.667 kelahiran di usia 20) atau kelainan kromosom (terjadi pada 1 dari 426 perempuan berusia 20). Karena itu, jika hamil di usia awal 20-an sebaiknya Anda rutin melakukan tes screening untuk melihat keadaan janin apakah memiliki cacat lahir atau tidak.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.