Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

BACKPACKER DIARY: Menyisir Wisata Syahwat di Red District Amsterdam, Hati-Hati Dilarang Memandang Terlalu Lama!

Dada Sathilla , Jurnalis-Jum'at, 22 September 2017 |06:15 WIB
BACKPACKER DIARY: Menyisir Wisata Syahwat di Red District Amsterdam, Hati-Hati Dilarang Memandang Terlalu Lama!
Foto: Dada/Okezone
A
A
A

BANYAK destinasi seru yang bisa dikunjungi dan dinikmati saat berkunjung ke Amsterdam, Belanda. Bila museum, taman, Dam Square maupun pusat perbelanjaan cocok dikunjungi saat siang hari, di malam hari Red Light District atau daerah prostitusi menjadi magnet ratusan turis. Red Light District Amsterdam juga aman dikunjungi karena telah dilegalkan oleh pemerintah kota Amsterdam. 

BACA JUGA

Saat traveling ke Amsterdam, saya dan teman mencoba memutuskan mengunjungi Red Light District. selain lokasinya dekat dengan Dam Square kawasan ini sungguh kontroversial dan unik di mata orang Indonesia. Dengan sepeda kami menuju Red Light District. Sepeda kemudian kami letakkan di sebelah tiang dan tak lupa menggemboknya. Red Light District lebih seru dijelajahi dengan berjalan kaki. 

Jam 9 malam saat musim semi, suasana masih terang menjelang petang. Namun kawasan ini mulai disesaki oleh para pengunjung. Terletak di seberang kanal, berjejerlah rumah - rumah yang disewa oleh para pekerja seks komersial Amsterdam. Dari balik tirai mereka kadang melambaikan tangan ke para pejalan kaki. Gadis - gadis ini kebanyakan memakai lingerie dan bikini. Beberapa terlihat muda namun banyak pula yang sudah tua, sekitar 40 tahun lebih. Hampir semuanya orang eropa. Para pengunjung diperbolehkan melihat mereka namun jangan memandang terlalu lama atau terlihat terlalu kepo karena hal ini dianggap tak sopan dan kasar.

Para pekerja seks di Red Light District Amsterdam ini merupakan para pekerja legal yang dilindungi oleh undang - undang. Prostitusi sendiri merupakan pekerjaan legal di Belanda. Di kawasan ini bahkan terdapat patung bernama Belle yang berbentuk seorang PSK sedang berdiri di depan pintu kamar. Tulisan di bawah patung berbunyi "Respect sex workers all over the world".

Amsterdam memiliki 3 Red Light District yaitu Singelgebied, Ruysdaelkade dan De Wallen. Namun De Wallen yang saya kunjungi inilah yang paling terkenal, paling tua dan terbesar. Saat melewati gang - gang di De Wallen saya melihat beberapa pria tengah bertransaksi di depan pintu rumah. Di sebelahnya, tirai kamar tengah tertutup. Bila tirai tertutup maka artinya pekerja di dalam tengah menerima tamu. Lampu kamar juga biasanya menyala merah. Para turis yang mengunjungi kawasan ini tak diperbolehkan untuk mengambil foto para PSK disini. Bila ketahuan mengambil foto atau video maka sekuriti akan mengambil kamera anda. 

Red Light Distrik terdiri dari banyak gang. Di salah satu gang rupanya ada pintu yang membuka. Saya dan teman beserta turis lain iseng masuk ke dalam. Di dalam rumah berjejer pintu - pintu kamar layaknya kos-kosan. Di salah satu pintu kamar yang terbuka terlihat seorang gadis pekerja seks komersial yang memakai lingerie duduk di atas tempat tidur. Di pojok dinding di lorong ini seorang gadis lain berdiri sambil menggoda para turis yang lewat. Haha.. sungguh pengalaman yang unik, Cuma di Amsterdam kita bisa melihat hal seperti ini. 

BACA JUGA:

Sepatu Sneakers Unik Sengaja Dirancang dengan Aksen Merah seperti Kue Red Velvet

Mood Rusak karena Bad Hair Day? Rambut Diikat Saja atau 6 Cara Simpel Jadi Solusinya

Di Red Light District Amsterdam ada sekitar 301 kamar yang disewa oleh para pekerja seks komersial. Pekerjaan ini telah dilegalkan oleh pemerintah sejak awal abad ke-19. Para PSK juga memperoleh layanan kesehatan dan sosial dari pemerintah. Untuk mencegah penyebaran penyakit seksual, para pekerja seks diwajibkan untuk melalukan tes kesehatan secara teratur dengan biaya yang ditanggung pemerintah.

Di kawasan prostitusi seluas 6500 meter persegi ini mereka yang bekerja sebagai pekerja seks komersial diwajibkan berumur minimal 21 tahun. Sebanyak 75% PSK di Red Light District Amsterdam berasal dari Eropa timur, Afrika dan Asia. 

Selain melihat kehidupan di De Wallen, di kawasan ini para turis bisa mengunjungi sex theatres, sex museum, cannabis museum dan juga berbelanja di sex shops. Ada juga pertunjukkan menarik bernama peep shows dimana dengan memasukkan koin 2 euro (sekitar Rp.32.000) anda bisa melihat live sex shows dari lubang kecil selama beberapa menit. Lubang akan tertutup setelah beberapa menit kemudian namun dengan memasukkan koin lagi anda bisa melanjutkan mengintip pertunjukkan ini. 

Capek menjelajah Red Light District ? Beristirahatlah di salah satu cannabis coffee shops di De Wallen. Coffee shops ini tak menjual kopi namun cannabis atau ganja. Ganja juga telah dilegalkan pemerintah Belanda sehingga membeli ganja di coffee shops disini aman.

(Ade Indra Kusuma)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement