KAIN nusantara banyak sekali bentuknya. Diperkirakan, hampir di semua wilayah di indonesia memiliki kain khas ini. Dengan bentuk yang beraga, motif yang beraneka rupa, pun warna yang kaya, membuat kain nusantara tidak ada habisnya untuk dikagumi.
Namun, tahukah Anda kalau di Indonesia ini ada kain yang berusia tua. Ratusan tahun mungkin ada. Seperti yang dimiliki Seniman Sjamsidar Isa. Mendapat warisan Kain Songket Palembang yang awalnya merupakan koleksi ibundanya.
’’Bicara usia kain tersebut, ya sudah pasti ratusan tahun. Soalnya ibu saya yang punya itu sebelumnya,’’ katanya pada Okezone saat diwawancarai langsung di Qubicle Center, Senopati, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Baca Juga:
Besar di Palembang menjadi alasan kenapa akhirnya kain tersebut yang paling tua usianya. Dalam penjelasannya, seniman yang biasanya disapa Tjammy ini menuturkan, dirinya kadang suka kecewa dengan pedagang kain.
Mereka menyebutkan bahwa usia kain tersebut tua. Tapi, ketika diperhatikan lebih dekat, tidak ada tanda-tanda kain tersebut telah berusia tua. Menurut Tjammy, kain yang sudah tua itu sebetulnya mudah dikenali.
Selendang Songket Limar asal Mentok, Bangka (Foto: Istimewa)
Salah satunya dilihat dari keseluruhan kain. Apakah di kain tersebut ada lubang atau tidak. Lubangnya juga bukan rusak karena goresan atau faktor benturan lainnya.
’’Kalau kain tersebut benar-benar sudah ‘berumur’ maka ada lubangnya. Itu terjadi karena kain tersebut dimakan ngengat. Secara alamiah memang begitu. Jadi, jangan pernah percaya sama pedagang yang bilang kain tersebut berusia tua tapi bahannya masih mulus,’’ tegasnya.
Sementara itu, dia juga menjelaskan mengenai pewarnaan kain tersebut. Pada mereka yang sudah terbiasa melihat kain, diberkati dengan taste yang baik menilai kain tersebut. Contoh sederhananya saja masalah warna kain. Jika kain tersebut warnanya pekat, maka dipastikan prosesnya pewarnaannya tidak sebentar. Semakin tipis warna kain tersebut, berarti proses pewarnaannya pun sebentar. “Tidak salah, hanya bentuk variasi warna saja,’’ tambahnya.
BACA JUGA:
Kemudian, Tjammy juga memberikan sedikit tips memilih batik yang baik. Yang paling utama adalah dilihat dari bentuk motifnya. Kalau itu kain batik warna motifnya “bleberan” atau luntur ke bagian dasar kain, dipastikan pembuatnya malas dan buru-buru.
’’Sebab, batik yang baik adalah setiap motif yang terlukis di kainnya jelas dan warnanya baik, tidak belang-belang,’’ ungkap Presiden Ikatan Perancang Mode Indonesia.
Tjammy juga melanjutkan, dirinya sedikit kecewa dengan pengrajin batik sekarang. Sebab, banyak di antara mereka yang akhirnya menerapkan sistem cepat. Jadi, yang seharusnya proses pembuatan batik itu menggunakan malam sebagai medium penutupan bagian lain dari motif yang ingin diwarnai, sekarang beberapa pengrajin lebih memilih melukisnya tanpa harus menutup bagian lainnya.
Hasilnya, banyak batik yang warnanya tidak begitu baik atau juga tidak merata. “Kalau sudah begitu, keindahannya tentu akan berkurang,’’ papar dia.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.