SETIAP pasangan pasti ingin ibu dan bayinya berhasil melalui proses persalinan. Tapi, tidak semua kehamilan bisa melahirkan dengan sukses. Terkadang, ibu dapat mengalami kondisi kritis selama persalinan yang membuatnya meninggal dunia.
Kematian ibu saat melahirkan bisa disebabkan kondisi saat persalinan, atau dalam waktu 42 hari setelah melahirkan (masa nifas). Sementara di Indonesia, angka kematian ibu pada 2015 mencapai 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup.
Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, penyebab terbesar kematian ibu pada periode 2010-2013 adalah karena perdarahan. Selain itu, kematian juga diperparah oleh cara mengatasi kehamilan atau penanganannya.
Di samping itu, ada juga penyebab lain seperti tekanan darah tinggi, infeksi, penyakit jantung, tuberkulosis, dan lainnya. Nah, berikut adalah penyebab ibu hamil meninggal yang paling umum terjadi.

1. Emboli paru
Emboli paru adalah gumpalan darah di paru-paru, biasanya terjadi ketika gumpalan darah yang ada di kaki atau paha (disebut dengan deep vein thrombosis (DVT)) pecah dan mengalir ke paru-paru.
Emboli paru dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menjadi rendah, sehingga menyebabkan sesak napas dan nyeri dada. Organ tubuh yang tidak mendapatkan cukup oksigen dapat mengalami kerusakan, dan hal ini kemudian bisa menyebabkan kematian.
Agar mencegah emboli paru dan DVT, ada baiknya Anda bangun dan berjalan sesegera mungkin setelah melahirkan. Sehingga, darah bisa mengalir dengan lancar dan gumpalan darah tidak terjadi.
2. Preeklampsia
Jika Anda memiliki tekanan darah tinggi, maka berhati-hatilah. Preeklampsia biasa terjadi setelah minggu ke-20 kehamilan. Preeklampsia bisa diobati namun juga bisa menjadi parah dan menyebabkan plasenta terpisah, kejang, atau sindrom HELLP.
Sindrom HELLP dapat membuat kerusakan hati yang berjalan dengan cepat. Tanpa perawatan yang baik, preeklampsia juga bisa menyebabkan kematian.
3. Perdarahan berat (hemoragik)
Perdarahan umum terjadi, tapi jika tidak ditangani dengan baik bisa semakin parah, bahkan bisa menyebabkan ibu meninggal. Perdarahan ini bisa terjadi saat Anda memilih untuk melahirkan dengan cara normal maupun caesar.
Perdarahan setelah melahirkan bisa terjadi karena Miss V atau leher rahim robek atau saat rahim tidak berkontraksi setelah melahirkan. Perdarahan berat juga disebabkan oleh masalah plasenta selama kehamilan, seperti abrupsio plasenta, kondisi di mana plasenta terpisah dari rahim sebelum waktu kelahiran.
4. Kardiomiopati
Selama kehamilan, fungsi jantung wanita mengalami perubahan yang cukup banyak. Hal ini membuat ibu hamil yang memiliki penyakit jantung berisiko tinggi untuk mengalami kematian. Salah satu penyakit pada jantung yang dapat menyebabkan kematian ibu hamil adalah kardiomiopati.
Penyakit ini bisa membuat jantung lemah, sehingga tidak bisa memompa darah dengan baik. Pada akhirnya, kardiomiopati bisa menyebabkan masalah, seperti gagal jantung atau penumpukan cairan di paru-paru. Demikian ditulis situs Hellosehat.
5. Infeksi
Infeksi bisa terjadi jika ada bakteri masuk ke tubuh dan tubuh tidak bisa melawan. Beberapa infeksi bisa sampai menyebabkan ibu meninggal setelah melahirkan. Ibu hamil yang terinfeksi kelompok bakteri Streptokokus B dapat mengalami sepsis (infeksi darah).
Terkadang, sepsis bisa menyebabkan penggumpalan darah pada ibu hamil, sehingga menghalangi aliran darah ke organ penting ibu, seperti otak dan jantung. Hal ini kemudian dapat menyebabkan kegagalan fungsi organ dan bahkan kematian.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.