Kelompok yang diberi latihan intens melakukan latihan ketahanan lima hingga enam kali per minggu selama 30-60 menit per sesi. Mereka juga mengikuti diet ketat yang kaya buah dan serat, konsumsi makanan yang lemak jenuhnya rendah, dan menghindari makanan olahan. Hasil penelitian menunjukkan manajemen gaya hidup melalui diet dan latihan intensif membawa kadar gula darah ke kisaran nondiabetes.
Selain itu, tiga perempat dari mereka yang berada dalam kelompok intensif memerlukan lebih sedikit obat diabetes. Sedangkan di kelompok yang menjalani perawatan standar, hanya ada seperempat orang bagian dari kelompok untuk menurunkan frekuensi minum obat.
Namun, tidak semua ahli setuju dengan hasil penelitian ini. Dr Joel Zonszein, direktur pusat diabetes klinis di Montefiore Medical Center, New York memperingatkan bahwa penderita diabetes tidak boleh menghilangkan obat mereka. Dia menyarankan agar gaya hidup sehat harus selalu diadopsi dalam kombinasi dengan pengobatan.
"Obat dan perubahan gaya hidup itu penting. Bila pasien diabetes mengombinasikan kedua hal itu, maka kinerjanya akan lebih baik. Penting untuk mempertimbangkan efektivitas biaya obat beserta biaya yang lain. Banyak biaya datang karena adanya komplikasi diabetes akibat penggunaan obat yang tidak sesuai," kata Dr Joel seperti yang dikutip dari Daily Mail, Senin (21/8/2017).
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.