MASYARAKAT Indonesia cukup familiar dengan kanker payudara, kanker rahim, atau kanker otak. Tapi, apakah Anda pernah mendengar sebelumnya mengenai kanker kepala leher?
Ya, kanker kepala leher memang tidak seeksis jenis kanker lainnya. Informasi mengenai kanker ini pun masih sangat minim. Makanya, mungkin itu alasannya masih banyak orang belum teredukasi dengan baik mengenai kanker kepala leher.
(Baca Juga: Kegiatan Rutin untuk Cegah Pikun di Usia Lanjut)
Tapi, bicara data, diketahui kanker kepala leher merupakan kanker ganas ke-9 yang paling banyak diderita semua orang di dunia. Tidak kurang dari 550.000 angka kejadian baru dan 300.000 kematian akibat kanker ini setiap tahunnya. Mengacu pada data tersebut, maka tidak bisa menganggap remeh kanker ini.
(Baca Juga: Cintai Orangtuamu, Jangan Titipkan ke Panti Jompo, Bisa Meningkatkan Risiko Kematian!)
Dijelaskan Dr Marlinda Adham SpTHT-KL(K), kanker kepala leher merupakan bentuk jamak dari beberapa kanker yang ada di dalamnya. Jenis kanker tersebut adalah kanker nasofaring, kanker laring, kanker rongga mulut, kanker parotis (kanker kelenjar kulit), kanker rongga mata, serta kanker sinonasal.
"Setiap kanker tersebut punya gejalanya masing-masing. Tapi, karena letak tumornya sangat tersembunyi, sehingga banyak masyarakat yang tidak mengetahui bentuk awal dari kanker tersebut," paparnya saat memberikan penjelasan di acara Perayaan Hari Kanker Kepala Leher Sedunia di Aula Departemen Radioterapi - RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Kamis (10/8/2017).
(Baca Juga: Menua dengan Sehat dan Tidak Sakit-sakitan, Tentu Bisa Dong!)
Dr Marlinda menjelaskan, bagian tubuh yang merupakan kepala leher meliputi mulut sampai bagian bawah perut. Termasuk di dalamnya juga saluran pernapasan. Terkait dengan gejalanya, Dr Marlinda menegaskan gejala setiap jenis kanker sangat sulit dikenali.
(Baca Juga: Wanita Berusia 82 Tahun Ini Memberikan Tips Menua dengan Sehat)
Walau sulit, Profesor Ahli Onkologi Radiasi Prof Dr dr Soehartati Gondhowiardjo Sp.Rad(K)OnkRad menyatakan, pasien tidak boleh menunda-nunda pengobatan. Ketika gejala sudah mulai terlihat, sebaiknya sudah harus ada penanganan dokter.
"Sebab, jika dibiarkan, kemungkinan tumbuhnya sel kanker sangat besar. Kalau sudah begitu, pengobatan pun akan semakin kompleks," tambahnya.
Profesor yang biasa disebut Prof Tati itu juga menuturkan, pada pasien yang sudah menjalankan operasi pengangkatan kanker kepala leher, jangan kemudian senang. Sebab, kemungkinan kambuh pada masalah ini cukup besar yaitu 30 sampai 40 persen. Sehingga, jika tubuh pasien tidak dijaga dengan baik, maka kanker yang sama bahkan kanker baru bisa saja datang kembali.
"Kanker kepala leher ini adalah pembunuh berdarah dingin. Keberadaannya susah dideteksi, pembiaran akan membuat pasien semakin tersiksa. Risiko terparahnya kematian," pungkasnya.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.