“Sebelumnya saya telah menghitung waktu tidur. Saya tahu bahwa bayi akan bangun pada malam hari dan tidak suka disentuh. Tapi apa yang saya alami ternyata berbeda. Bayi saya membutuhkan lebih banyak perhatian, lebih banyak waktu, lebih banyak hiburan, dan sebagainya,” tutur Leah. Eva cenderung menjadi bayi yang tidak puas, hiperaktif, menguras tenaga, banyak menuntut, sering bangun, dan tidak dapat diprediksi. (Baca Juga: Sarapan Hanya Makan Pisang, Sehat atau Tidak?)
“Lima bulan pertama saya merasa semuanya berantakan. Saya benar-benar merasa melakukannya sendiri. Tidak ada orang lain yang bisa mengerti keadaan yang saya alami. Terlebih ketika melihat bayi orang lain bisa tertawa dan tersenyum dengan senang sedangkan anak saya tidak. Saya menangis hampir seharian melihat kondisi ini,” tandas Leah.
(Foto: Dailymail)
Di titik ini Leah mulai berkonsultasi ke seorang dokter keluarga untuk mengetahui apakah ada yang salah dari caranya. Setelah berkonsultasi dengan dokter, Leah mulai mengatur strategi sederhana. Dia mulai memesan bahan makanan secara online dan memiliki asisten rumah tangga. Setelah melakukan itu, Leah melihat perubahan besar dalam perilaku dan mood Eva. (Baca Juga: Jangan Khawatir, Sarapan Telur Setiap Hari Enggak Bikin Gemuk!)
“Rasanya seperti sebuah saklar yang disentuh. Tiba-tiba saja Eva menjadi tidak begitu rewel dan lebih bahagia. Walaupun saya masih memiliki hari-hari yang sulit dan perhatian saya tercurah sepenuhnya ke Eva, tapi saya berusaha untuk menerima dan melanjutkan strategi yang saya susun. Saya berpesan pada orangtua yang juga memiliki anak-anak berkebutuhan tinggi untuk tetap bertahan dan temukan cara untuk mengatasi anak mereka. Berpergian dua kali sehari mungkin akan membantu,” pungkas Leah.
(Helmi Ade Saputra)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.