MATAHARI masih sepenggalan, saat masyarakat berduyun-duyun menggerakkan kaki ke Jalan Monumen Timur, Tenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu pagi.
Begitu sampai, mereka langsung mengambil posisi duduk bersila di atas karpet yang membentang panjang di jalan itu. Aroma masakan menyeruak ke angkasa.
Di hadapan mereka, telah ada beragam jenis masakan terhidang. Berbagai macam makanan berat khas Kutai Kartanegara seperti nasi kuning, nasi kebuli, sate payau, gence ruan, nasi campur dan lainnya. Juga berbagai penganan asal Kutai lainnya seperti bongko, putu ayu, kue labu, serabi, nasi uduk dan roti balok.
BACA JUGA: FOOD STORY: Makan ala Liwetan, Tradisi Nusantara yang Kini Jadi Tren Kuliner Modern
Tak lama kemudian, sejumlah pejabat dan Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Haji Aji Muhammad Salehuddin II datang dan langsung duduk bersila membaur bersama masyarakat. Begitu kentongan berbunyi, serentak semua yang hadir langsung makan nasi.
Bagi masyarakat Kutai Kartanegara, tradisi itu dinamakan Beseprah, yang memiliki makna makan bersama sambil duduk bersila. Makan bersama tersebut dilakukan tanpa memandang pangkat dan jabatan. Semuanya membaur menjadi satu. Beseprah merupakan saat dimana masyarakat bisa menikmati hidangan lezat secara cuma-cuma.
(Kutaikertanegara)
"Tradisi ini, dulunya dilakukan raja-raja Kutai. Setiap kali beliau pergi ke daerahnya, pasti melakukan Beseprah. Pihak kerajaan mengundang rakyatnya untuk makan bersama," ujar Putra Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Adji Pangeran Adipati Prabu Anum Surya Adiningrat menjelaskan.
Beseprah dilakukan tak hanya pada saat Kesultanan Kutai Kartanegara tetapi juga ketika masih berbentuk Kerajaan Hindu.
Beseprah merupakan simbol kedekatan sultan dan para rakyatnya. Pada masa Kesultanan Kutai Kartanegara, sultan-sultannya sangat dicintai oleh rakyatnya.
"Beseprah menjadi simbol ungkapan kedekatan Sultan dan rakyatnya, pimpinan dan masyarakatnya. Melalui beseprah, akan timbul rasa saling berbagi, menyayangi, keakraban antara kesultanan dan rakyatnya," papar dia.
Kini, setelah era Kesultanan Kutai Kartanegara berakhir, Beseprah tetap dilestarikan. Beseprah dilakukan ketika Festival Erau berlangsung dan dilangsungkan pada pagi hari.
Erau atau Eroh, yang menurut bahasa setempat yang berarti riuh, ramai ataupun ribut. Keriuhan pun terjadi sepanjang pelaksanaan Festival Erau di kota raja tersebut.
BACA JUGA: Kenali Tradisi Makan Bersama ala Masyarakat Indonesia
Pelaksanaan Erau dimulai ketika pendiri Kesultanan Kutai Kartanegara, Aji Batara Agung Dewa Sakti, berusia lima tahun. Pada saat itu dilakukan upacara tijak (menginjak) tanah dan mandi ke tepian. Setelah diangkat menjadi raja (sekitar tahun 1300 hingga 1325) diselenggarakan upacara Erau.
Lalu, Erau diadakan ketika ada penobatan raja dan pemberian gelar pada tokoh masyarakat yang berjasa pada kerajaan. Erau dulunya tak hanya berlangsung selama sepekan tetapi 40 hari 40 malam yang diikuti masyarakat. Selain berpesta ria, rakyat juga mempersembahkan sebagian hasil buminya kepada kesultanan.Pihak kesultanan pun membalasnya dengan menjamu rakyatnya dengan berbagai sajian.
"Saat Erau juga dilakukan tradisi Beseprah atau makan bersama sambil duduk bersila," jelas dia.
Beseprah menambah panjang tradisi makan bersama masyarakat di Tanah Air. Jika di Jambi, ada namanya tradisi "makan basamo" yang dilakukan masyarakat Melayu Jambi usai Shalat Idul Fitri. Bedanya, di banyak tempat tradisi makan bersama dilakukan di ruangan tertutup maka Beseprah dilakukan di ruang terbuka atau jalan raya. Tradisi itu tidak hanya menarik minat masyarakat setempat tetapi juga wisatawan.