Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Tren Tas Jinjing untuk Pria, Tampil Feminin tapi Tetap Maskulin

Koran SINDO , Jurnalis-Rabu, 26 Juli 2017 |17:59 WIB
Tren Tas Jinjing untuk Pria, Tampil Feminin tapi Tetap Maskulin
(Foto: Manofmany)
A
A
A

TAS bukanlah barang baru bagi pencinta fashion. Bukan hanya digunakan wanita sebagai penunjang penampilan, tas jinjing atau tote bag kini pun sedang tren digunakan para pria untuk mengekspresikan gaya.

Meskipun bergaya feminin, sentuhan maskulin pun tetap terlihat dalam tote bag pria. Dilansir dari Vogue , untuk memenuhi kebutuhan gaya para pencinta tas, beberapa merek mewah dunia pun terlihat mengeluarkan koleksi tote bag khusus pria yang elegan. Sebut saja beberapa waktu lalu pertunjukan koleksi pria musim Semi 2018, Balenciaga memperlihatkan tas jinjing kulit dengan model yang ramping, serta tas jinjing dengan model lilitan berwarna hijau.

Louis Vuitton menunjukkan versi monogramnya, sementara JW Anderson memiliki tote dengan rajutan besar. Potongan tote bag terlihat mencuri perhatian pekan pertunjukan koleksi pria. Bukan hanya di atas panggung, tapi banyak juga pengunjung pria yang menggunakan tote bag dengan berbagai cara. Seperti terlihat tote dalam bentuk kain yang dijepit. Ada pula yang menggenggamnya dengan satu tangan serta yang menggunakan diselempangkan di bahu untuk terlihat makin gaya.

Jauh di luar desain mewah dengan material elegan merek dunia, banyak tote bag yang sudah lebih dikenal dengan bahan sederhana. Biasanya dibuat dari barang kanvas dengan warna putih ditambahi motif print . Harganya pun tentu lebih murah dan sangat berguna untuk pengganti tas laptop yang kaku atau sekadar membawa kebutuhan kerjaan. Meskipun terlihat chic jika digunakan pada pria, ternyata penggunaan tas jinjing masih memiliki banyak pendapat yang bertentangan, khususnya bagaimana cara menjinjingnya agar tetap terlihat maskulin.

Apa pun perdebatannya, banyak pria yang saat ini menggunakan tote bag , terlebih dengan beberapa model yang hadir di runway. Liliana Satenstein, penulis mode di Vogue, mengungkapkan memang jika dilihat dengan wanita, barang bawaan pria relatif lebih sedikit. Ia pun sempat memerlukan waktu untuk menyesuaikan diri dengan tren tas jinjing pria yang biasanya terlihat besar.

“Tapi kemudian saya ingat bahwa ini adalah 2017, saat orang sibuk membutuhkan iPad, makan siang, buku, kabel pengisi daya, dan ya makanan ringan. Dan tidak setiap pria ingin terbebani oleh semua kantong, perangkat keras, dan tas ransel atau koper umum,” sebut Liliana dalam tulisannya.

Meskipun faktor penyesuaian paling tinggi bagi pria dengan tas jinjing adalah kejantanan. Dia meyakini persepsi soal kejantanan akan berubah seiring waktu. Lagi pula tidak ada yang salah dengan tote bag pria dalam fashion . Lihat saja bintang basket seberat 220 pon, Dwyane Wade, yang terlihat menggunakan tas Hector Thom Browne bersama istrinya saat Paris Fahsion Week Spring Mens 2018 .

Tidak ada yang pernah tahu apa yang sedang dibawa pria melalui tas tote -nya. Bisa jadi mereka justru berinvestasi dengan model kulitnya. Bicara tentang tas tote untuk pria, Bail, salah satu pendiri label barangbarang bermerek yang berbasis di London, Troubadour, mengatakan bahwa ia terkejut dengan popularitas mendadak dari gaya tas yang biasanya dibawa oleh wanita. “Totes telah tumbuh supercepat untuk kita (pria), dan sekarang gaya terlaris kita,” sebut Bail. 

Awalnya tahun 2011, Bail dan rekannya, Abel Samet, bekerja sebagai pemodal besar di London, akhirnya memutuskan untuk mengisi pasar tas pria yang berfokus pada kulit berkualitas tinggi. Melompat maju ke 2016, barang Troubadour telah menjadi fenomena global yang dijual di Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Belgia, Swiss, Hong Kong, Jepang, Rusia, dan China dengan harga yang tidak murah.

Hand-crafted yang dibuat di Italia untuk sebuah ransel pencinta tas harus mengeluarkan lebih dari USD2.500. Bicara popularitas tas jinjing Troubadour, Bail mengatakan bahwa dia tidak pernah memiliki penglihatan untuk menciptakan tas belanja laki-laki, dan awalnya pun ia gigih menentangnya.

“Perancang kami tetap bersikeras agar kami membuat tas dan jawaban saya secara konsisten sama sekali tidak. Saya tidak akan pernah membawa tote , ini adalah mode, terasa feminin bagiku,” lanjutnya.

Namun, ia akhirnya tetap memberi kesempatan untuk membuat desain tas tote , yang harus diakui sangat berguna bagi dirinya. Satu desain tas tote Troubadour pun sukses di pasaran. “Semua orang yang melihatnya meminta kami memasukkannya (tas tote ) ke dalam jangkauan kami,” tuturnya.

(Muhammad Saifullah )

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement