WAT Phou berdiri anggun di Laos, meskipun tidak 'sehebat' Angkot Wat di Kamboja saat menarik turis dunia. Meski begitu, situs warisan dunia ini menawarkan suasana alam yang lebih dramatis.
Bangunan kuno itu menghadirkan pemandangan menakjubkan dari reruntuhan peninggalan Kekaisaran Khmer. Beberapa bangunan berumur lebih dari 1000 tahun, sebagian besar berasal dari abad 11 sampai 13.
Situs ini terbagi menjadi enam teras di tiga tingkat yang diikuti oleh sebuah tangga berbingkai untuk menuju kuil utama di puncak, seperti mendaki bukit atau gunung. Pada tingkat bawah, Anda pertama-tama akan melewati kolam besar berbentuk persegi yang banyak dibangun pada zaman Kekaisaran Khmer di Asia Tenggara atau disebut baray.
Lalu, Anda akan berjalan ke dasar bebatuan pasir yang besar dari pintu masuk utama kuno ke Wat Phou. Di sini dimulai pemandangan bergaya seremonial, sisi jalan terdapat kuncup teratai batu dan diapit dua batang kayu yang jauh lebih kecil masih dipenuhi air, bunga teratai selama musim hujan.
Naik ke bagian tengah Wat Phou, di bagian tengahnya memiliki dua paviliun bersegiempat terukir indah, dibangun dari batu pasir dan laterit. Diyakini dibuat dari pertengahan abad ke-10 atau awal abad ke-11, gayanya menyerupai Koh Ker di Kamboja.
Bangunannya terdiri dari empat galeri dan halaman terbuka. Wat Phou diubah menjadi situs Buddha di abad-abad berikutnya. Namun sebagian besar patung asli Hindu di dalamnya menampilkan berbagai bentuk Wisnu dan Siwa. Di sebelah paviliun selatan berdiri Nandi Hall yang didedikasikan untuk Dewa Siwa.
Di dasar tangga kedua, terdapat dwarapala (patung penjaga gerbang atau pintu dalam ajaran Siwa dan Buddha, berbentuk manusia atau monster) yang mengesankan. Dwarapala berdiri tegak lurus dengan menggenggam pedang. Sebagian besar turis lokal dari Thailand akan menenangkan jiwanya sebelum melanjutkan mendaki jalanan berbukit.
Jika turun dari jalan setapak ke daerah berumput tepat di sebelah utara, Anda akan sampai ke sisa-sisa yoni. Itu merupakan batu candi yang merupakan simbol alat kelamin wanita.
Selain itu, terdapat pula 2 patung Dwarapala berukuran besar, tanpa kepala dan setengah lengan. Dwarapala ini adalah terbesar yang pernah ditemukan di manapun di bekas kerajaan Angkorian.
Setelah Dwarapala, ada sebuah jalan berbatu mengantar Anda ke tangga curam, di atasnya terdapat sebuah teras kecil menampung enam tempat batu bata yang hancur, hanya satu masih berbentuk asli.
Dari sini, 2 tangga terakhir yang ditandai dengan patung penjaga berjongkok tanpa kepala dan lengan, untuk membawa Anda ke puncak. Caranya yakni melewati teras besar yang bisa Anda lihat dengan jelas dari dasar gunung.
Selanjutnya, pada tingkat paling atas Wat Phou adalah tempat yang paling suci. Di sana memiliki banyak ukiran, terutama 2 pelindung dan 2 bidadari. Itu melindungi Shiva Lingam yang dimandikan, melalui sistem pipa batu pasir, dengan air dari mata air suci yang masih mengalir di balik kompleks.
Tempat suci ini sekarang berisi satu set gambar Buddha yang sangat tua dan khas di altar. Bagian belakang bata, yang mungkin dibangun pada abad ke-9 adalah tempat Shiva Lingam suci disimpan. Dipahat menjadi batu besar di balik tempat Kudus adalah Trimurti bergaya Khmer, trinitas suci Hindu Siwa, Wisnu dan Brahma.
Nah, waktu terbaik untuk mengunjungi Wat Phou adalah pagi hari. Suhu udara masih sejuk dan untuk mengambil pemandamgan Wat Phu dengan cahaya terbaik sunrise. Seru bukan?
(Fiddy Anggriawan )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.