Dusun Ngino
(foto: Ivan Aditya/Krjogja)
Kampung unik ini bernama Dusun Ngino yang masuk wilayah di Desa Margoagung, Kecamatan Seyegan. Terletak di barat daya Kabupaten Sleman, Dusun Ngino memiliki larangan tak tertulis yang diyakini warganya yakni pantang menanam tanaman sirih serta tak boleh membuat sumur.
Ngino sendiri diambil dari kata dasar ‘Nginang’ yang dalam bahasa Jawa berarti kebiasaan mengunyah daun sirih. Kebiasaan inilah yang dahulu sering dilakukan Mbah Bregas, sosok disegani warga saat itu.
Asal muasal pantangan membuat sumur dan menanam sirih berawal dari cerita pertemuannya antara Mbah Bregas dengan Sunan Kalijaga di kampung tersebut. Saat itu kedua tokoh ini asik berbincang soal agama dengan hingga larut malam bahkan sampai dini hari.
Ketika tengah seru-serunya berbagi ilmu, tiba-tiba ada seorang warga yang tengah mengambil air dari sumur untuk menyiram tanaman di ladang. Sunan Kalijaga mengira suara itu merupakan aktivitas warga yang tengah mengambil air wudhu untuk menjalankan Salat Subuh.
Penyebar agama Islam di tanah Jawa ini segera mengakhiri perbincangannya dengan Mbah Bergas dan bergegas mengambil air wudhu.
Dengan rasa malu Mbah Bregas mengatakan kepada Sunan Kalijaga jika saat itu belum saatnya masuk waktu Salat Subuh dan suara tadi merupakan kegiatan warga yang tengah menimba air untuk menyiram tanaman. Mbah Bregas yang merasa bersalah memperingatkan warga tersebut dan kemudian melarang masyarakat sekitar untuk memiliki sumur di rumah mereka.
Sementara kepercayaan tak mau menanam tanaman sirih lantaran warga menghormati kebiasaan Mbah Bregas yang gemar ‘nginang’. Masyarakat sekitar tak berani melanggar pantangan itu hingga saat ini.
Dusun Beteng
(foto: Ivan Aditya/Krjogja)
Dusun Beteng berada di Kelurahan Margoagung, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman. Warga di sini memiliki pantangan membangun rumah berdinding tembok. Warga lebih memilih membangun rumah rumah mereka dengan dinding kayu maupun bambu. Kenapa ya?
Pantangan itu dilakukan warga bukan tanpa sebab, semua dilakukan berkaitan dengan kisah perjuangan Pangeran Diponegoro saat mengusir penjajah Belanda dari tanah Mataram. Dahulu kawasan Margoagung merupakan basis pertahanan awal pasukan Diponegoro sebelum kompeni masuk lebih jauh ke pusat pemerintahan saat itu.
Di kawasan ini Pangeran Diponegoro membangun benteng pertahanan. Benteng pertahanan yang dibuat bukan sembarangan, melainkan benteng gaib. Para pejuang dan warga sekitar tak akan bisa melihat adanya bangguna besar di sini, namun jika pasukan Balanda mendekati kawasan Margoagung seolah melihat benteng besar dengan ribuan pasukannya.
Kompeni yang nekat mendekat benteng tersebut akan tewas. Jangankan manusia, kuda milik kompeni yang melewatinya pun juga akan mati.
Hal itulah yang kemudian mendasari warga enggan membangun rumah mereka terbuat dari dinding. Warga meyakini, dengan membangun rumah bertembok maka akan terjadi marabahaya. Tak hanya bagi dirinya sendiri, namun juga bagi warga sekitar.
(Fiddy Anggriawan )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.