Kelompok misophonic mengalami peningkatan denyut jantung dan respon perlawanan tubuh, ketika mereka mendengar suara pemicu. Para peneliti melihat adanya koneksi antara bagian dari otak yang terhubung dengan emosi, ketika misophonia terlalu aktif.
"Mereka dengan misophonia akan merasa terganggu ketika mendangar suara-suara, tetapi aktivitasi misophonia muncul ketika ada suara pemicu," jelas Kumar. Bukan merasa jijik, rata-rata relawan akan memberi respon marah ketika mendengar suara pemicu.
Saat ini tidak ada obat untuk menangani misophonia. Sebagai pencegahan reaksi marah, penyumbat telinga bisa membantu mereka. Peneliti menyarankan untuk menghindari alkohol dan kafein. Konsumsinya dapat memperparah misophonia. Hasil dari penelitian ini nantinya akan dipublikasikan dalam jurnal Current Biology. Demikian dilansir dari laman Sheknows, Rabu (8/2/2017).
(Helmi Ade Saputra)