Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Keistimewaan Kain Tenun Ende Nusa Tenggara Timur

Annisa Amalia Ikhsania , Jurnalis-Kamis, 15 Desember 2016 |13:06 WIB
Mengenal Keistimewaan Kain Tenun Ende Nusa Tenggara Timur
Tenun ende (foto: google search)
A
A
A

INDONESIA memiliki keanekaragaman budaya yang unik dan berbeda setiap provinsi, termasuk kota dan kabupatennya. Sayangnya, kebudayaan yang luar biasa tersebut masih belum semuanya dikenal dengan baik oleh masyarakat Indonesia.

Salah satunya adalah kain tenun dari Kabupaten Ende, Flores, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kain tenun Ende, Flores, NTT merupakan warisan tradisi dari leluhur masyarakat Ende.

Jenis kain tenun ini memiliki ciri khas tersendiri, yakni cenderung berwarna gelap. Motifnya kecil dan ada salur hitamnya, terdiri atas motif dan ragam hias. Motif disebut kepala kain dan ragam hias disebut kaki kain.

Para penenun NTT kerap mengadopsi motif alam, seperti binatang, hasil benda adat, hasil kebun jagung atau padi, serta emas, dalam kain tenun Ende. Namun, lantaran arus globalisasi, kain tenun Ende menjadi kurang berkembang.

Tenun Ende seringkali dianggap sebagai komoditas, padahal makna dibaliknya sangat beragam. Hilangnya kesadaran, orientasi, dan makna tenun budaya dan tradisi membuat kain tenun Ende kurang diketahui oleh masyarakat Indonesia, khususnya para generasi muda.

"Tenun Ende sebenarnya masih punya kekuatan untuk tetap bertahan, karena memang adat yang kuat dan sebagai bahan utama dalam prosesi adat. Misalnya, kalau mau menikah, pihak laki-laki memberikan emas kepada perempuan, kemudian perempuan memberikan kain terbaiknya. Sehari-hari pun masih dipakai untuk ke gereja dan masjid," tutur Bernadetha Maria Sere Ngura Aba, selaku Pemerhati Sosial Ekonomi untuk kain Tenun, yang ditemui usai pembukaan pameran Pesona Kain dan Budaya Ende, di Museum Tekstil, Jakarta.

"Tetapi, dengan perkembangan fesyen yang sangat kuat ditambah kebutuhan pasar, akhirnya dari pengelola tenun mencoba menambahkan jenis pewarnaan, yang mulanya cokelat atau hitam kekuningan menjadi warna cerah, seperti biru indigo atau merah. Kami mencoba meyakinkan tuntutan pasar dengan tidak menghilangkan warna atau motif, tetapi mengikuti keinginan pasar," terangnya.

Meski awalnya dirasa sulit melatih dan mengedukasi para penenun yang dibina oleh Museum Tenun Ikat di Ende, perlahan namun pasti mereka mau mengadopsi hal baru tersebut. Namun, dituturkan Sere, sapaan akrabnya, jika tidak didukung oleh pemerintah maka tenun Ende bisa punah.

Sere berharap agar tenun Ende bisa semakin populer di Tanah Air. Tak terkecuali membutuhkan peran dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah, para desainer sampai konsumen.

(foto: annisa/okezone)

"Usia penenun itu dari 35-40 tahun ke atas. Memang nilai ekonomisnya ada tetapi kalau tidak dilihat, untuk apa? Untuk itulah peran pemerintah sangat penting. Misalnya, dengan menambah muatan lokal di sekolah-sekolah Ende agar timbul rasa cinta terhadap tenun. Kemudian, bagi para Pegawai Negeri Sipil bisa sering mengenakan baju dari tenun Ende. Serta membuat kebijakan terkait tenun printing yang mulai bermunculan di kota-kota Ende," tambahnya.

Selain itu, agar lebih dikenal oleh masyarakat Indonesia, Komunitas Peduli Wastra Indonesia menggelar pameran Pesona Kain dan Budaya Ende di Museum Tekstil, Tanah Abang, Jakarta, mulai 14-20 Desember 2016.

(Silvia Junaidi)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement