Kepercayaan diri Derlina semakin bertambah, karena rumah singgah yang ditempatinya mengadopsi nama anaknya sebagai nama panti menjadi Rumah Aira. Bahkan, setelah melalui pemeriksaan medis, anaknya dinyatakan negatif dari penyakit berbahaya itu.
“Jangan ada lagi diskrimanasi kepada orang-orang seperti saya. Penyakit ini kan penularannya beda, yaitu melalui jarum suntik, tranfusi darah, atau hubungan seks. Jadi kalau enggak melakukan itu kan aman,” beber Derlina.
Pendiri Panti Rumah Aira, Maria Magdalena, mengatakan, dengan pemahaman yang benar masyarakat akan menerima keberadaan penderita HIV/ADIS. Selain itu, penderita HIV/AIDS juga didorong membuka diri agar masyarakat bisa melakukan langkah-langkah pencegahan untuk menghindari penularan.
“Sekarang ini bukan zamannya lagi penderita AIDS ini dikucilkan. Mereka ada di tengah-tengah kita. Media juga enggak perlu lagi menyembunyikan identitas mereka, atau pun di-blur wajahnya. Mereka kok seperti penjahat saja,” tegasnya.
Dia menambahkan, penyakit HIV/AIDS ibarat fenomena gunung es. Penyakit itu masih dianggap sebagai aib, sehingga penderita tak berani membuka diri. Padahal, semakin menutup diri maka penderita HIV/AIDS kian berpotensi menyebarkan penyakit itu.
(Renny Sundayani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.