MEMPUNYAI sebuah bisnis yang bisa berkembang dan besar di negeri sendiri tentu menjadi sebuah kebanggaan. Betapa tidak, membangun usaha yang besar berarti juga membuka lapangan kerja yang luas bagi lingkungan sekitar.
Sekiranya ini juga yang menjadi visi dan misi dari pemilik brand busana muslim Shafira yang namanya sudah tak asing lagi di industri fesyen muslim Indonesia.
Adalah Fenny Mustafa yang merupakan founder dan pemilik dari Shafira Corporation (ShafCo), yang membangun bisnisnya hingga kini sudah meluas ke seluruh negeri. Ia meyakini seorang entrepreneur harus memiliki sifat seperti nabi yakni Al Amin atau jujur. "Dari kejujuran ini akan melahirkan trust bagi mitra bisnis atau pelanggan," ungkap Fenny.
Berikut ini rangkaian perbincangan hangat Okezone dengan Fenny Mustafa yang berbagi bagaimana jatuh bangunnya membangun bisnis ini dan impiannya lebih jauh untuk Ibu Pertiwi, Indonesia.
Bisa diceritakan bagaimana awal mula membangun Shafira, mengapa memilih industri ini dan apa tantangan ketika merintis bisnis ini?
Awal mulanya itu 27 tahun lalu, jadi tahun 1989 di bulan Januari awalnya Shafira lahir di Bandung dengan satu tokonya, lalu kita ke Jakarta untuk mempelajari desain dengan desainer senior, dengan APPMI, terus kita jadi semakin tahu dan berilmu, baru setelah itu Shafira dibentuk untuk bisnis yang lebih profesional lagi.
Tantangannya sendiri itu justru dari diri saya sendiri karena keinginan saya itu berbeda dengan yang lain, berbeda dengan desainer yang lain. Kalau yang lain kan selalu ingin fashion show, punya boutique di Jakarta. Nah, kalau keinginan saya adalah bagaimana caranya agar busana muslim ini bisa secara keseluruhan ada di kota besar dan kecil di Indonesia. Itu kita berarti kan untuk bisa berjualan dibanyak tempat showroom-nya juga harus banyak.
Kalau ditanya mengapa, pada saat itu saya berpikir agar masyarakat ‘melek’ fesyen terutama busana muslim, saat itu busana muslim kan masih langka ya, orang biasanya pakai busana biasa. Jadi, bagaimana ini bisa sampai ke daerah, makanya kita bikin Shafira di kota besar, dan kota kecil juga butuh, lantas di kota-kota kecil kita buat Zoya, sekira 10 tahun lalu, yang secara harga juga jauh lebih terjangkau.
Ketika membuat Zoya, kita juga membuat program waralaba di mana bertujuan untuk membuat ekonomi berjamaah jadi menggandeng mitra waralaba yang kami sebut mitra Zoya untuk tumbuh bersama-sama dan rezekinya juga untuk sama-sama dan alhamdulillah sekarang Zoya dan Mezora sudah sampai ke daerah-daerah.
Berbicara masa kini, fesyen muslim semakin menjamur, lalu apa yang membedakan ShafCo dengan yang lain?
ShafCo profesional, kita juga punya manajemen yang baik kita punya manajer, general manajer, direktur, itu orang-orang yang profesional yang sengaja direkrut agar perusahaan ini bagus dan tetap tumbuh dengan baik. Selain itu, kita selalu buat yang baru, makanya per kuartal kita ada model baru terus.
Lalu, Shafco sudah melakukan ekspansi sejauh mana? Apakah ada cabang di luar negeri?
ShafCo fokus di dalam negeri. Kita ingin terus menjaga pasar juga, jangan sampai produk luar negeri justru merajai Tanah Air. Kita ingin fokus karena telah kita ketahui banyak juga brand asing yang jual busana muslim. Untuk di luar negeri kita enggak ada store yang tetap, kalau ada sebuah pameran seperti waktu itu ShafCo pernah ke Eropa dan sempat memiliki gerai resmi di negara tetangga seperti Malaysia.
Dari ShafCo sendiri bisa dilihat tidak, bagaimana kondisi pasar, bagaimana daya beli masyarakat?
Menurut kami, pasar tumbuh tetap, artinya setiap tahun ada saja yang baru pakai hijab dan busana muslim. Tapi enggak ada hubungannya dengan resesi ya. Hanya daya beli masyarakat Indonesia dua tiga tahun ini melemah, karena ekonomi tentunya, bukan karena enggak jadi pakai busana muslim sehingga orang menahan untuk beli busana, kan busana tersier yah. Jadi masyarakat kini lebih mengutamakan makan, pendidikan, rumah, mobil, ditahan untuk posting busana. Jadi pasarnya agak ngerem sih untuk sekarang-sekarang ini.
Terkait dengan kreativitas erat kaitannya dengan selera masyarakat, bagaimana ShafCo melakukan inovasi?
Di ShafCo urusan kreatif kami sangat mewah, kalau brand lain kan cuma satu orang, kita ada tim kreatif sampai 8 orang per cabang bisnis. Karena apa? Kita sadar bahwa kita adalah lokomotif busana mulsim di Indonedia jadi kita harus create terus-menerus. Itu kekuatan sekaligus tantangan buat grup kita.
Untuk tren busana muslim setiap tahun ShafCo punya tema sendiri, kita buat turunan quartal satu, dua dan tiga serta masterpiece per tahunnya. Nah, dari situ kita eksplorasi. Dasarnya tentu di tren warna dan tekstil dunia, kita ada acuannya.
Untuk desainer dan desain-desain lokal, menurut seorang Fenny Mustafa bagaimana posisi Indonesia di taraf internasional?
Saya suka traveling sambil traveling itu saya liat muslim lokalnya, bagaimana busana muslimnya, seperti Malaysia dasarnya cuma baju kurung dan memakai scarf, kalau Indonesia kini beragam ya sekarang baik warna atau modelnya. Desainernya juga banyak. Kalau zaman ShafCo lahir itu baru ada dua. Saya pernah memprovokasi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai kiblat fesyen dunia dan akhirnya sekarang, ini dijadikan program pemerintah Indonesia, bahwa 2020 Indonesia menjadi kiblat fesyen muslim di dunia.
Ke depannya apa impian ShafCo?
Sederhana saja, ingin buka lapangan kerja sebesar-besarnya karena banyak pengangguran, tapi enggak semudah itu butuh mitra, untuk itu kita menggandeng sekiranya 50 mitra untuk Zoya dan bisa ditambah lagi. Karyawan saya sendiri ada sekira 2000-an.
Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia ke-71, apa makna kemerdekaan untuk seorang Fenny Mustafa? Apakah ada pesan untuk pemuda dan pemudi Indonesia?
Jika zaman dulu seseorang yang disebut pahlawan adalah yang aktif di medan perang, sekarang, menurut saya pemuda atau semua bangsa Indonesia harus berkontribusi untuk pertumbuhan, kesejahteraan, keindahan, kebersihan, sehingga Indonesia bisa maju dan jangan merusak alam.
Jadikanlah sumber daya alam sebagai modal untuk maju, sekarang ini negara kita perlu banget pahlawan yang tak perlu dikenal. Jadi lakukanlah apa yang bisa dilakukan dari diri sendiri, lalu sayangi orangtua jangan sampai kita kurang hormat atau kurang sayang. Menurut saya bukan budaya kita untuk membuang orangtua, kita harus hormat. Indonesia perlu pahlawan kekinian, namun tak perlu disebutkan jasanya.
(Vien Dimyati)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.