Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Inilah Kerajinan Akar Pohon Bali Idola Turis Mancanegara

Inilah Kerajinan Akar Pohon Bali Idola Turis Mancanegara
Ukiran akar pohon yang menjadi ciri khas kerajinan tangan masyarakat Bali (foto:skanaa.com)
A
A
A

DENPASAR - Kerajinan akar pohon yang diformat unik khas Pulau Bali, banyak diminati konsumen asing, karena merupakan produk antik untuk barang koleksi dan bisa menjadi komoditi artistik guna dijual kembali ke negara masing-masing.

"Sudah sekitar lima tahunan kami membuka usaha dari bahan baku kerajinan akar dan peminatnya tidak pernah sepi. Rata-rata pembeli dari konsumen asing yang sedang liburan atau tinggal di Bali," kata Diego, pemilik usaha art furniture di Kerobokan, Denpasar, Selasa, (15/12/2015).

Dikatakannya, semula usaha keluarganya adalah 'handicraft' biasa dengan bahan kayu pada umumnya. Bisnis itu sudah dijalankan bertahun-tahun, namun dengan omzet yang stagnan. Baru sejak lima tahun lalu, usaha dialihkan dengan mengganti bahan baku menggunakan akar pohon.

"Hasil kerajinan menjadi artistik dan terlihat sebagai barang seni yang membuat laju usaha kerajinan akar pohon itu mulai banyak dilirik konsumen," ujarnya.

Peminat kerajinan dari akar pohon itu tidak hanya tinggal di wilayah Denpasar, namun tidak jarang juga berasal dari Nusa Dua, Ubud, Sanur dan wilayah lain yang banyak dihuni para ekspatriat.

Hingga kini, peminat kerajinan ini memang didominasi orang asing, dan barang kerajinan difungsikan sebagai ornamen di vila. Sering pula ada orang asing yang memesan untuk dijual kembali di negaranya, karena produk ini memiliki tampilan yang 'lain'.

Kalau memesan untuk dikirim ke luar negeri, maka dikemas dalam kontainer supaya tanpa cacat sampai di negara tujuan. Negara-negara yang pernah menjadi tujuan pengiriman produk kerajinan itu antara lain Australia, Amerika Serikat, Italia, dan beberapa negara lain.

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement