Itu berawal dari perusahaan keluarga Pande (keluarga mertua) yang memiliki perusahaan batik Bali. Pande sendiri merupakan clan keluarga suami, di mana mereka berpesan agar ia meneruskan usaha batik Bali dan terus melestarikannya. Meskipun jumlahnya minoritas, ia terus berjuang melestarikan batik Bali.
“Kami mengangkat motif seperti poleng dan patra Mesir. Karena batik Bali merupakan prusahaan warisan dari mertua, beliau berpesan kepada saya untuk meneruskan usaha batik Bali ini dan melestarikannya. Mereka yang melestarikan batik Bali ini hanya 10 persen dari pengrajin kain ikat atau endek di Bali,” tutur perempuan kelahiran Malang, 26 Maret 1971 itu.
Dalam melestarikan batik Bali, ia butuh perjuangan panjang. Selama 15 tahun bergelut di dunia fesyen, secara bertahap ia membuat kain batik Bali ‘naik kelas’. Hal tersebut terbukti dengan gayanya mengeksplor kain tradisional ini menjadi koleksi-koleksi cantik.
Ia mengekpresikan dalam gaun, baju, tas, sepatu, kipas, dan aksesori fesyen lainnya lewat brand Balibatiku yang dirintisnya sejak 2012, sebelumnya bernama Merumas.