Tujuh tahun bergiat di bidang UKM membuatnya prihatin dengan branding produk UKM Indonesia. Menurutnya, produk Indonesia sebenarnya punya potensi bersaing dengan produk luar negeri. Sayangnya, banyak produsen yang belum memahami bahwa branding merupakan gerbang menuju pasar internasional.
“Kerupuk kalau ditaruh kaleng tidak menarik. Tapi kalau di plastik yang dihias, diberi pita, orang pasti tertarik untuk beli. Minimal bikin orang penasaran, apa sih itu kok cantik banget?” ujarnya kepada Okezone di bilangan Kebayoran Baru beberapa waktu lalu.
Bukan hanya sekadar ucapan, artis senior ini turun langsung dalam mengenalkan branding kepada para pelaku UKM. Contohnya ketika asisten rumah tangganya mengenalkan penganan peyek. Atau ketika tetangganya yang seorang ibu rumah tangga pandai membuat gado-gado tapi tidak memanfaatkan keahlian tersebut untuk menambah penghasilan keluarga. Lina, panggilan akrab Raslina Rasyidin, membantu mereka mulai dari pengemasan, branding, sampai pemasaran.
“Saya sering diundang untuk jadi pembicara di seminar-seminar UKM. Sulit ternyata membangun kesadaran branding. Orang yang jualan banyak berpikir enggak apa-apa jualan mie ayam di gerobak jelek asal mienya enak. Padahal, kalau jualannya bersih, cantik, tentu pelanggan akan semakin banyak.”