Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Yayan Ruhian: Keberhasilan Saya Bukan Luar Biasa

Ariesta Asri , Jurnalis-Sabtu, 05 September 2015 |04:51 WIB
Yayan Ruhian: Keberhasilan Saya Bukan Luar Biasa
Yayan Ruhian (Foto: Okezone)
A
A
A

SEPULUH tahun lalu, belum banyak orang mengenal sosoknya. Tapi kini, namanya sudah  disejajarkan dengan banyak nama aktor laga kelas dunia.
 

Yayan Ruhian, pria kelahiran Tasikmalaya 19 Oktober 46 tahun lalu kini dikenal ikon pencak silat Indonesia berkat penampilannya di film 'Merantau' sebagai Eric, 'The Raid: Redemption' sebagai Mad Dog, dan 'The Raid 2: Berandal sebagai Prakoso'.

Berkat kepiawaian silatnya di film tersebut, banyak orang Indonesia hingga orang asing yang ingin belajar langsung pencak silat darinya. Meski demikian, Yayan menganggap jika keberhasilannya ini bukan sesuatu yang luar biasa.

“Saya melihat ini bukan sebuah perjalanan luar biasa. Karier di bidang entertainment bukanlah rencana saya. Tapi apa pun yang kita rencanakan meskipun menurut kita itu yang terbaik, belum tentu baik juga di mata Tuhan. Saya hanya mencoba belajar mensyukuri selain menikmati,” tuturnya saat bertandang ke kantor Okezone dalam rangka promosi film 'Gangster'.

Diakui pria berambut gondrong ini, film merupakan sarana yang tepat untuk kembali memperkenalkan pencak silat kepada generasi muda. Memang, pencak silat sempat kalah pamor karena anak muda Indonesia lebih senang mempelajari bela diri dari negara lain seperti taekwondo dari Korea, karate dari Jepang, atau capoeira dari Brazil tapi tidak mengenal bela diri asal tanah air sendiri.

“Gareth Evans karena melakui film 'Merantau' mengangkat pencak silat menjadi sebuah budaya dibungkus dengan budaya merantau dari tanah minang. Kemudian di film 'The Raid', diperkenalkan pencak silat sebagai sebuah bela diri asli Indonesia. Yang membuat saya senang, film-film ini tidak hanya membuka mata anak muda Indonesia tentang pencak silat tapi juga penonton luar negeri.”

Meski kini Yayan telah memiliki murid di Belanda, Prancis, dan Belgia, dia tetap rendah hati. Baginya, semakin dalam seseorang yang mempelajari silat justru semakin merasa tidak jago. Ibarat minum air laut, semakin diminum malah semakin haus.

“Bela diri memang penting tapi jauh lebih penting tahu diri. Kita bisa bela diri tapi kalau untuk hanya menjadi jagoan mau berapa lama sih? kalau orang tahu diri, bergaul dengan orang jahat saja bisa aman. Inti dari bela diri ya tahu diri,” tegasnya bijak.

(Vien Dimyati)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement