MENINGKATNYA minat masyarakat Indonesia untuk menjalani ibadah umroh di Arab Saudi, khususnya di bulan Ramadan, membuat pemantauan kesehatan harus diperketat. Hal ini penting dalam rangka mencegah kemungkinan penyakit menular MERS Coronavirus.
Berbagai persiapan dilakukan pemerintah, khususnya Kementerian Kesehatan. Mulai dari terus mengadakan sosialisasi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), hingga menyiapkan prosedur penatalaksanaan kasus seperti yang dilakukan lewat simulasi kesiapsiagaan dan penatalaksanaan MERS CoV yang diadakan di bandara.
Kegiatan ini penting untuk sektor kesehatan agar mampu memastikan bagaimana melakukan pencegahan serta mendeteksi sedini mungkin jika ada kasus masuk melalui pintu masuk negara," tegas Menteri Kesehatan RI, Nila F Moeloek, di terminal 2 kedatangan luar negeri, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Jumat (3/7/2015).
Dalam simulasi tersebut, jamaah umroh yang baru sampai dipantau suhu tubuhnya dengan thermal scanner yang mereka lewati. Bila satu orang diketahui memiliki suhu tubuh di atas 38 derajat, mereka akan diminta untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di bandara untuk mengetahui apakah penyebab suhu tubuh bertambah.
"Sebelumnya, setiap jamaah juga diharuskan mengisi health alert card atau kartu kewaspadaan kesehatan sebagai catatan kesehatan selama di tempat umroh atau haji dan setelah kembali ke Tanah Air. Kalau demam dirasakan di dalam pesawat atau lebih dari empat hari setelah sampai di Tanah Air, mereka harus melapor ke awak pesawat atau petugas medis. Bila dicurigai, kita akan rujuk ke rumah sakit yang telah disiapkan," jelas Menkes.