Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Gunung Papandayan Memicu Adrenalin

Risna Nur Rahayu , Jurnalis-Selasa, 23 Desember 2014 |12:00 WIB
Gunung Papandayan Memicu Adrenalin
Gunung Papandayan memicu adrenalin (Foto: Risna Nur Rahayu/Okezone)
A
A
A

GARUT - Gunung Papandayan berada di Kecamatan Cisurupan, Garut, Jawa Barat. Setelah erupsi akhir November 2002, gunung setinggi 2.665 MDPL itu sampai saat ini menjadi tujuan pendaki.

Medan Papandayan tidak sulit dan memiliki track diduga menjadi alasan gunung ini cocok bagi mereka yang awam dalam melakukan pendakian. Kendati begitu, tak berarti panorama yang tersaji di biasa saja.

Gunung ini memiliki banyak tempat indah mempesona. Di antaranya, kawah belerang, telaga yang memiliki warna air beubah-ubah, hamparan hutan mati, dan di dekat puncaknya terdapat ladang bunga edelweis. Suara gemericik air dan kabut membuat suasana perjalanan semakin sejuk.

Bahkan, pemandu wisata menyatakan panorama matahari terbit di Gunung Papandayan tak kalah menakjubkan dari Pegunungan Dieng di Jawa Tengah yang memiliki julukan Golden Sunrise. Bila ingin menyaksikan indahnya matahari terbit di Gunung Papandayan, berdirilah di Tebing Soni di sekitar pos II.

“Seorang turis yang pernah menjadi tamu saya mengatakan, view sunrise di sini (Papandayan) lebih bagus dari Gunung Merbabu dan Dieng di Jawa Tengah, bahkan Gunung Batur di Bali,” ujar Asep Sunrise kepada Okezone sambil mengacungkan jempolnya.

Asep adalah warga di kaki Gunung Papandayan. Usianya tak lagi muda, sekira 40 tahun. Untuk urusan mengamati matahari terbit, dia jagonya. Nama “Sunrise” sendiri sebagai julukan karena memang pemandu wisata spesialis matahari terbit.

“Matahari tidak selalu terbit di sisi yang sama, bulan ini bisa di sana, bulan selanjutnya bergeser. Saya selalu mengamati itu,” ungkap pria yang mengatakan hafal tiga bahasa asing yakni Inggris, Prancis, dan Belanda itu. “Hafalnya sih bahasa obrolan. Saya tidak paham aturan grammer. Terpenting tamu paham apa yang saya ucapkan,” tambahnya sambil tertawa.

Gunung ini juga tempat tinggal beragam flora seperti pohon suagi (vaccinium valium), edelweis (anaphalis javanica), puspa (schima walichii), saninten (castanea argentea), pasang (quercus platycorpa), kihujan (engelhardia spicata), jamuju (podocarpus imbricatus), dan manglid (magnolia sp).

Beraneka ragam hewan hidup di sini, di antaranya, babi hutan, tenggiling, kijang, lutung, serta beberapa jenis burung seperti walik dan kutilang. Tak heran, tempat ini menjadi tujuan peneliti.

Tidak sulit mencapai Papandayan. Bila menggunakan bus dari berbagai daerah, seperti Jakarta, berhentilah di Terminal Guntur, Garut. Selanjutnya menumpangi angkot khusus pendaki dengan harga yang tidak begitu mahal hingga ke Simpang Tiga Cisurupan. Dari sana, perjalanan kembali dilanjutkan dengan mobil pikap menuju Camp David atau pos I gerbang pendakian.

Selama perjalanan menggunakan mobil pikap dengan estimasi waktu sekira satu jam, panorama alam yang tersaji cukup memacu dopamin sekaligus adrenalin. Di satu sisi, panorama yang begitu menakjubkan berupa jajaran pepohonan hijau dan pegunungan berselimut awan tipis membuat perasaan bahagia. Tapi di sisi lain, juga merasa tegang karena jalan yang dilintasi terus menanjak sekaligus menikung.

Begitu sampai di Camp David, silakan melakukan registrasi sebelum melakukan pendakian. Dari sini, pendaki akan melewati jalan berbatu yang kadang landai kadang menanjak. Dalam perjalanan menuju pos II inilah terdapat Kawah Papandayan. Areanya cukup luas mencapai 10 hektare. Ini merupakan kawasan gunung berapi yang masih aktif. Pada kawahnya terdapat lubang-lubang magma yang mengeluarkan air dan asap. Sebaiknya menggunakan masker, karena bau belerang cukup menyengat di sini.

Setelah melewati jalan berbatu, jalur yang dilalui menuju pos II cukup sulit. Pendaki harus berjalan menanjak dengan kemiringan sekira 60 derajat. Jika sedang musim hujan, jalanan menjadi licin karena becek. Di pos II, pendaki diminta kembali melakukan pendaftaran. Tempat ini juga bisa dijadikan tempat istirahat karena terdapat warung yang menjual makanan dan minuman ringan.

Selanjutnya, perjalanan menuju Pondok Saladah dengan melintasi hutan dan medan yang dilalui masih menanjak. Tempat ini merupakan padang rumput seluas delapan hektar, dan di sinilah tempat pendaki mendirikan kemah. Jika malam sedang cerah, Pondok Saladah merupakan spot terbaik untuk menyaksikan bulan dan tebaran bintang. Tempat ini juga pas bagi mereka yang menyukai keheningan.

Pondok Saladah merupakan ‘pintu’ menuju hamparan Hutan Mati atau death forest. Terdapat ribuan pohon cantigi mati di sana. Konon, pohon-pohon tersebut hangus terbakar saat Gunung Papandayan meletus beberapa tahun lalu. Miski terkesan mistis, tempat ini sangat indah karena panorama sekitarnya berupa perbukitan hijau.

Tempat yang tak kalah indah lainnya adalah Tegal Alun, rumah dari ribuan pohon edelweis. Cuaca di sini tak menentu. Kabut bisa datang tiba-tiba disertai embun dan hujan. Namun bila hari sedang curah, biru langit tentu menjadi paduan yang sangat indah. Untuk mencapai Tegal Alun, pendaki harus berjalan menanjak melintasi hutan dari kawasan Hutan Mati. Sementara dari Tegal Alun menuju Puncak Papandayan di ketinggian 2.665 MDPL tidak terpaut jauh.

Meski pendakian Gunung Papandayan cocok bagi pendaki pemula, sebaiknya para pendaki tetap membawa kelengkapan mendaki berupa senter, jaket hangat, dan sepatu atau sandal khusus gunung. Jangan lupa juga membawa minyak angin dan obat masuk angin karena cuaca di sana begitu dingin. Lalu hal terpenting yang patut diingat, tujuan pendakian bukanlah puncak gunung, tapi kembali ke rumah dengan selamat.

(Johan Sompotan)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement