Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Menggali Sejarah Makam di Atas Bukit Majene

Winda Destiana , Jurnalis-Minggu, 03 November 2013 |10:13 WIB
Menggali Sejarah Makam di Atas Bukit Majene
Kompleks Makam Raja Banggae (Foto: Indonesia Travel)
A
A
A

Bosan berpetualang atau menjelajahi sungai, pantai, dan melakukan pendakian? Untuk merasakan sensasi lain saat liburan Anda, diperlukan wisata sejarah atau religi. Salah satu tempat wisata yang cukup bernilai sejarah terletak di Teluk Majene.

Ya, nenek moyang suku Mandar di Kerajaan Banggae Majene seolah tidak bisa memilih tempat yang lebih baik untuk memakamkan raja dan keluarga mereka, selain di Pemakaman Kerajaan Raja Royal Banggae dan Hadat. Pemakaman berusia tua ini berada di Bukit Ondongan menghadap ke Teluk Majene. Lokasinya persis berada di dalam Desa Pang Ali-ali, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat. Demikian dilansir Indonesia Travel.

Di Bukit Ondongan, nenek moyang Kerajaan Banggae Majene kuno menemukan tempat peristirahatan terakhir mereka. Banyak yang mengatakan bahwa lokasi puncak bukit tersebut dipilih dengan alasan agar nenek moyang Kerajaan Banggae Majene dapat mengawasi keturunan mereka yang berada di bawah bukit atau ketika mereka berlayar jauh mencari nafkah di lautan luas.

Dalam kompleks pemakaman terdapat 480 makam yang terbuat dari berbagai bahan, seperti batu lava, batu tanah, dan kayu. Makam dihiasi dengan simbol geometris, kaligrafi Arab, dan simbol swastika. Keberadaan simbol yang bervariasi tersebut juga meninggalkan misteri tersendiri tentang bagaimana simbol Islam dan Hindu dapat ditemukan di situs pemakaman yang sama. Batu nisannya juga memiliki banyak simbol yang menyerupai simbol-simbol di candi yang ada di Pulau Jawa. Saat ini, kompleks makam raja-raja Banggae dan Hadat telah terdaftar sebagai cagar budaya menyusul konservasi yang terus dilakukan.

Berdasarkan penelitian sejarah dan arkeologi sementara, pemakaman ini diperkirakan sudah ada sejak abad 16 dan 17. Siapa pemilik kompleks pemakaman ini masih menjadi misteri. Meskipun demikian, penamaan kompleks pemakaman ini diyakini diberikan raja pertama Banggae yang dikenal sebagai Poralle dan diangkat sebagai Mara 'dia Salabose dan Daeng Salabose (pemimpin besar). Dia juga diberi gelar Puang Banggae dan membentuk masyarakat pertama yang kemudian tumbuh menjadi Kerajaan Banggae. Oleh karena itu, diyakini bahwa mereka yang dimakamkan di kompleks pemakaman ini adalah keturunan Puang Banggae.

(Syukri Rahmatullah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement