DUNIA aksesori kini pun ramai peminat. Banyak orang yang terjun di dalamnya sebagai desainer aksesori. Hal ini menjadi warna tersendiri bagi industri terkait.
Zaman dulu, dunia aksesori tak seramai sekarang. Masih minim pemain yang mau mengeksplorasi secara khusus desain aksesori secara eksklusif. Berbeda dengan saat ini di mana banyak pemain baru yang turut meramaikan kancah industri aksesori.
Di satu sisi, tentu hal tersebut menjadi satu bukti bergairahnya dunia aksesori yang mulai diminati untuk ditekuni. Di sisi lain, tentu menjadi persaingan tersendiri bagi para desainer yang lebih dulu terjun di dalamnya.
Elizabeth Wahyu, salah satu desainer aksesori yang cukup lama bermain di industri ini mengakui hal tersebut. Menurutnya, hal ini menjadi gairah tersendiri bagi dunia yang ditekuninya sejak 10 tahun itu. Meski demikian, Eliz, sapaan akrabnya tak menampik bahwa beragam kendala tetap saja muncul hingga kini.
“Kalau di Indonesia selama 10 tahun saya sebagai desainer aksesori, sebelum saya terjun itu ada Rinaldy A Yunardi dan setelah itu baru saya berikutnya. Ada lagi yang cukup populer ialah Tasha D, tapi tidak sampai dua tahun menghilang. Jadi kalau di Indonesia itu konsistensinya menurut saya yang agak kurang. Begitu lihat sudah banyak pemain langsung malas,” tuturnya kepada Okezone secara eksklusif di butiknya di Kemang, Jakarta Selatan, baru-baru ini.
Diakui Eliz, bertahan di dunia yang sama untuk sekian waktu memang tidaklah mudah. Apalagi, banyak kompetitor yang bermunculan seiring perjalanan waktu. Namun ketimbang memilih mundur, Eliz lebih memilih untuk memperluas marketnya.
Mengenai dukungan pemerintah yang dirasa minim, Eliz juga tak menjadikan hal tersebut sebagai hal yang menghambat laju bisnisnya. Selama masih bisa berusaha sendiri, dia akan mengembangkan sayap bisnisnya lebih luas dengan kemampuannya.
“Kalau di Indonesia sendiri dukungannya dengan ikut-ikut pameran seperti Inacraft. Tapi itu juga bukan dukungan pemerintah, karena bayar sendiri. Saya juga pameran ke luar negeri biaya sendiri dan marketing sendiri tanpa bantuan pemerintah,” imbuhnya.
Dipaparkannya, ada memang sebagian peserta pameran yang disokong seperti binaan dari UKM tertentu. Namun, untuk desain aksesori yang dihasilkannya menurutnya kurang begitu mengena untuk pasar luar negeri.
“Kalau untuk yang UKM bisa dilihat aksesorinya seperti perak Yogyakarta, terlalu tradisional untuk dibawa keluar. Kalau dibawa ke luar taste-nya tidak kena. Challenge terbesar ya tentunya memperbesar market dan itu tadi bergaulnya di Indonesia nanti sama aksesori murah dan dari luar. Sementara kita terjepit di tengah. Karenanya, bagaimana kita bisa bersaing dengan di luar sehingga kalau di luar sudah eksis, orang Indonesia pun akan dipercaya. Jadi memang agak susah untuk fokus selama sekian tahun mengerjakan hal sama. Itu challenging karena banyak orang yang menyerah,” tutupnya.
(Dwi Indah Nurcahyani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.