JAKARTA - Berkunjung ke Jakarta Fair, Anda akan menjumpai ribuan pedagang kaki lima membuka lapak di jalan-jalan seputar arena. Muncul dugaan mereka dikutip biaya sewa tempat yang tinggi.
Para pedagang kaki lima biasanya menawarkan makanan, minuman, aksesori khas Jakarta Fair, juga ada ratusan pedagang kerak telor. Para pedagang musiman ini banyak dijumpai di tiga jalan raya utama yang mengelilingi arena Jakarta Fair, yakni Jalan Pekan Raya, Jalan Industri, dan Jalan Benjamin Suaeb.
Pada hari-hari biasa, mereka mungkin berdagang di tempat lain. Namun, pada saat berlangsungnya Jakarta Fair, mereka memanfaatkan keramaian pengunjung untuk ikut mengais rezeki.
Direktur Marketing PT Jakarta Internationa Expo, Ralph Scheunemann, mengakui bahwa tak jarang timbul salah paham soal menjamurnya pedagang kaki lima musiman ini. Misalnya, ada anggapan bahwa mereka harus membayar sejumlah biaya tertentu kepada PT JIExpo selaku penyelenggara Jakarta Fair.
Kepada wartawan di arena Jakarta Fair Kemayoran, Ralph menegaskan bahwa pihak PT JIExpo tidak bertanggungjawab dan tidak mengkoordinasi para pedagang di luar arena. “Kami hanya menjalin komunikasi agar dalam mematok harga jangan sampai mencekik leher konsumen karena hal itu akan memperburuk citra Kemayoran sebagai kawasan yang aman dan ramah pengunjung,” katanya.
Jakarta Fair 2013 telah dibuka untuk umum sejak Kamis, 6 Juni 2013, dan pembukaan secara resmi dilakukan oleh Presiden SBY serta Gubernur DKI Joko Widodo pada Senin, 10 Juni 2013, lalu. Event ini akan terus berlangsung selama 32 hari hingga 7 Juli mendatang.
Dikatakan Ralph, Panitia Jakarta Fair tidak tahu menahu apakah para pedagang kaki lima dan para tukang kerak telor ini diminta membayar biaya tertentu atau tidak, karena hal itu berada di luar kewenangan PT JIExpo. Panitia Jakarta Fair hanya bertanggungjawab pada peserta pameran dan para pedagang di dalam arena pameran.
“Para pedagang di luar Arena PRJ ini mungkin diatur oleh otorita setempat. Jadi, kalau ada yang bilang mereka diminta membayar sewa atau apa, ya jangan ditanyakan ke Panitia Jakarta Fair, karena kita tidak ada hubungan apa-apa dengan kita,” tandasnya.
Menurut Ralph, pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengontrol kawasan Kemayoran di luar pagar PT JIExpo. Hal itu menjadi tanggung-jawab otorita.
“Kita ini, PT JIExpo, justru menjadi bagian dari warga yang juga harus tunduk pada aturan-aturan kewilayahan, bukannya malah kita yang ikut mengatur wilayah, itu sudah ada pihak yang berwenang mengaturnya sendiri,” pungkasnya.
(Fitri Yulianti)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.