Sjamsidar Isa (Foto: Runi/Okezone)
SEBAGAI organisasi yang sudah lama menaungi para pelaku mode Tanah Air, Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) memang tak bisa dipandang sebelah mata. Maka tak heran, jika organisasi tersebut memiliki standarisasi yang cukup tinggi bagi para desainer yang tergabung di dalamnya.
Bahkan, banyak pula anggapan yang mengatakan kalau bergabung dengan organisasi tersebut sangat susah. Lantas, benarkah demikian?
“Sebetulnya sangat
simple, semua orang bilang masuk IPMI susah, karena pilih-pilih. Sebenarnya ini sesuai tujuan, ini
kan suatu profesi yang baru,” kata Sjamsidar Isa, Ketua Umum IPMI kepada
Okezone secara eksklusif di kantor Studio One, Senayan, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Wanita ramah ini mengaku, IPMI lebih selektif karena ingin mendapatkan anggota yang berdedikasi tinggi terhadap fesyen Indonesia.
“Ada standarisasi menurut IPMI, ada komitmen dia jadi desainer, dilihat dari
long term-nya,
fight. Standarnya lima tahun, konsisten tidak jadi desainer,” terang wanita yang akrab disapa Tjammy ini.
“Ada garis desain atau karakternya, ada jati dirinya, itu yang membuat menjadi anggota IPMI itu tidak mudah,” imbuhnya.
Tak hanya itu, faktor kemunculan di media pun menjadi salah satu pertimbangan seorang desainer bisa tergabung dalam keanggotan IPMI.
“Kita lihat perjalanannya, lihat juga sudah keluar di majalah atau tidak, dia sudah ikut
show atau tidak. Walaupun ikut gabungan
show, artinya dia sudah dipilih oleh satu komunitas,” tuturnya.
Maka tak heran untuk menerima seorang anggota baru, proses yang dijalaninya pun cukup lama. Bahkan tak sampai di situ saja, penentuan oleh para anggota IPMI lain pun juga dipertimbangkan.
“Diterima oleh
vote, kita selalu
ngadain rapat untuk mengadakan penerimaan anggota baru yang dilakukan setiap dua atau tiga tahun sekali,” tutupnya.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.