MINUM vitamin dalam dosis yang tinggi tidak bisa menurunkan risiko wanita hamil mengalami komplikasi selama kehamilannya. Komplikasi kehamilan, seperti preeklampsia, terjadi karena sejumlah faktor, bukan karena tidak mengonsumsi vitamin.
Banyak orang yang beranggapan, mengonsumsi jenis vitamin yang tepat pada wanita hamil akan mengurangi risiko komplikasi dan bayi cacat. Namun, sebuah penelitian dan analisis terbaru menunjukkan, dosis tinggi vitamin C dan E, yang kabarnya dapat menurunkan risiko seorang wanita menderita komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, tidak terbukti.
Setelah meninjau sembilan studi dari partisipan hampir 20.000 wanita, para peneliti menemukan bahwa mereka yang mengonsumsi 1.000 miligram vitamin C dan 400 IU vitamin E -dosis yang jauh lebih tinggi daripada multivitamin prenatal kebanyakan- tidak mengurangi kemungkinan untuk mengembangkan komplikasi kehamilan berupa keracunan yang dikenal sebagai preeklampsia.
Sebaliknya, wanita yang diberikan dosis ekstra vitamin C dan E memiliki risiko yang lebih tinggi mengalami komplikasi kehamilan tertentu. Umumnya, para dokter tidak menyarankan wanita yang peduli risiko preeklampsia untuk mengambil vitamin ini dan tentu dengan alasan yang baik.
“Kami tidak merekomendasikan penggunaan vitamin C dan E secara rutin karena temuan analisis ini sistematis,” kata penulis studi Dr Sonia S Hassan dari Wayne State University, Detroit, Amerika Serikat pada Reuters.
Memang, ini bukan penelitian pertama yang meragukan kemampuan vitamin untuk mencegah preeklampsia. Tahun lalu, studi selama empat setengah tahun terhadap hampir 5.000 wanita menemukan bahwa mereka yang menggunakan dosis yang sangat tinggi dari vitamin C dan E, sekitar 10 persen lebih memiliki kemungkinan untuk mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan daripada relawan yang menelan pil plasebo.
Preeklampsia, yang ditandai dengan tekanan darah tinggi, protein dalam urine dan pembengkakan, terjadi pada sekitar 5% dari kehamilan wanita di Amerika Serikat setiap tahunnya. Jika tidak diobati, maka dapat mengakibatkan kejadian parah. Bahkan, kadangkadang fatal, yaitu komplikasi bagi wanita hamil dan bayinya.
Beberapa studi terakhir telah menemukan hubungan antara kekurangan vitamin C dan peningkatan risiko kelahiran bayi prematur, termasuk ketuban pecah dini.Ketuban sudah pecah (water breaks) sebelum waktunya sehingga terjadi persalinan. Vitamin C dianggap memainkan peran dalam mempertahankan plasenta dan selaput yang mengelilingi janin selama kehamilan.
Hal itu mungkin disebut stres oksidatif, yakni vitamin C dan E berperan sebagai “antioksidan”. Jadi, para peneliti telah mempelajari apakah mereka dapat membantu menurunkan risiko, tidak hanya lahir prematur, juga preeklampsia.
Namun, dalam studi ini -Dr Sonia S Hassan dan rekan-rekannya menggabungkan hasil dari sembilan riset dari 19.810 wanita hamil- menemukan bukti bahwa 9,6 persen wanita preeklampsia terjadi karena sejumlah faktor, terlepas dari apakah mereka menerima dosis tambahan vitamin C dan E atau obat plasebo.
“Belum jelas mengapa mengonsumsi antioksidan tidak mengurangi risiko (komplikasi kehamilan) pada wanita,” tutur Dr Sonia S Hassan, yang juga berbasis di Perinatology Research Branch di Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development, bersama rekan-rekan penulisnya, yaitu Dr Agustín Conde- Agudelo dan Dr Roberto Romero.
“Mungkin hal ini menjelaskan bahwa meskipun stres oksidatif tampaknya memainkan peran utama dalam penyakit preeklampsia, tetapi (antioksidan) bukan penyebab utama preeklampsia,”sebutnya.
Lagi pula, para wanita hamil tersebut mengambil dosis tinggi vitamin C dan E untuk mengembangkan tekanan darah tinggi tanpa protein dalam urine dan tanda lain dari preeklampsia, dan untuk mengalami ketuban pecah dini.
Dalam laporan yang diterbitkan dalam jurnal American Journal of Obstetrics & Gynecology, wanita yang diberi tambahan vitamin C dan E, bagaimanapun memiliki risiko yang lebih rendah untuk mengalami plasenta abruptio, yaitu terlepasnya plasenta yang letaknya normal sebelum janin lahir.
“Ini adalah hasil yang menarik,” ujar Dr Sonia S Hassan.
“Temuan dari penurunan risiko plasenta abruptio pada wanita yang mengonsumsi vitamin C dan E dapat menambah pengetahuan soal penyebab plasenta abruptio,” lanjutnya.
“Dan, bisa menjadi pedoman dalam bidang penelitian masa depan,” imbuhnya.
(Chaerunnisa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.